| FF One Shot | The last heart |

Cast:
`>Shin Yeonsu
`>Kangin | Super Junior
`>Hankyung | Super Junior
`>Kim Sangeun

“Annyeonghaseyo, jeoneun Shin Yeonsu imnida.”

Aku menundukkan kepalaku di depan seisi kelas.

“Mm… Keurom, kau bisa duduk di bangku itu.” Tunjuk wanita paruh baya di sebelahku

Aku melihat ke arah yang ditunjuknya, “Nde, kamsahamnida…”

Aku berjalan pelan ke bangku baruku. Songsaengnim memulai pelajarannya, tapi aku masih belum bisa focus ke arahnya. Jantungku masih berdegup kencang. Aku memperhatikan sekeliling kelasku. Teman-teman baruku nampak serius menyimak pelajaran. Pulpen yang sejak tadi kupegang, asyik berputar-putar di tanganku. Bukuku pun masih putih bersih. Aku masih gugup. Aku bisa merasakan peluh di dahi ku yang meluncur dengan mulus.

Tiba-tiba sebuah buku tebal mendarat tepat di mejaku. Aku menoleh dan mendapati seseorang yang kini duduk tepat di sebelahku. Sepertinya dia baru saja mengangkat bangkunya.

“Sepertinya kau belum punya buku. Biar kita belajar bersama.” Ujarnya sambil tersenyum padaku

“Gomawoyo.” Seruku dan langsung mengalihkan mataku ke buku di depanku.

Rasanya aku tidak sanggup melihat matanya yang tajam lebih lama. Jantungku terpompa makin cepat. Aku bisa merasakan pipiku yang kini hangat, dan aku yakin sekarang sudah merah padam.

“Jeoneun Hankyung imnida.” Sahutnya tiba-tiba

Refleks aku mengangkat wajahku dan menoleh ke arahnya. Wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajahku. Aku bahkan bisa merasakan helaan napasnya. Saking kagetnya aku langsung menunduk dan tidak berani mengangkat kepalaku.

“Nde, bangapseumnida.” Ujarku seadanya

Tidak ada lagi suara, kecuali suara songsaengnim yang sedang menjelaskan pelajarannya. Kali ini, aku benar-benar tidak bisa konsentrasi. Sekarang aku bahkan bisa melihat wajah pria di sebelahku yang seakan-akan memantul di buku di depanku.

Deg… deg… deg…

Aku bisa mendengar suara jantungku.

“Apa dia juga mendengarnya?” batinku, khawatir

:::

45 menit terpanjang dalam hidupku. Akhirnya bel berbunyi yang menandakan pelajaran hari itu selesai. Aku memang masuk kelas di pelajaran terakhir, karena aku harus mengurus beberapa hal di ruang administrasi.

Pria bernama Hangkung itu berdiri dan menarik bangkunya ke tempat semula, yang ternyata tepat di belakangku. Aku melirik ke arahnya tepat di saat dia melihatku. Dia tersenyum manis ke arahku. Aku yang salah tingkah, langsung berbalik dan merapihkan barang-barangku.

“Babo.” Rutukku pada diriku sendiri

Begitu semua buku dan alat tulisku masuk ke dalam tas, aku berdiri dan menggandeng tasku seraya berjalan keluar.

Gerbang sekolahku yang sudah dipenuhi murid-murid yang berlalu lalang, tepat berada di depanku. Aku berjalan keluar dari sekolah.

“Yeonsu-ssi.” Panggil seseorang

Aku berbalik, dan mendapati Hankyung yang berlari kecil ke arahku.

“Kita pulang bareng yuk.” Ajaknya

Hankyung menatapku tajam. Dia tersenyum seraya memiringkan kepalanya sedikit.

“Nde?” tanyaku bingung

Sebenarnya aku tahu harus berkata apa, tapi tiba-tiba bibirku kelu.

“Kau mau pulang bareng?” tanyanya lagi

“Mm…” ujarku mulai menimbang-nimbang

“Yeonsu-a!!” teriak seseorang

Dia langsung mendekatiku dan merangkul bahuku.

“Oppa! Kenapa kau bisa ada disini?” tanyaku heran
Aku benar-benar tidak menyangka kalau pria ini akan berdiri di sebelahku saat ini. Dia tetanggaku sejak aku kecil. Kami sangat dekat, bahkan lebih dekat di banding hubungan saudara. Hanya saja belakangan ini dia agak sibuk. Dia baru saja jadian dengan gebetannya, Kim Sangeun. Dan hari ini, dia ada janji untuk menjemput pacarnya itu di salah satu station tivi. Sangeun adalah seorang model terkenal.

Dia hanya tersenyum padaku.

“Teman barumu?” tanyanya

“Oh, oppa dia teman kelasku, Hankyung.” Kataku mengenalkan Hankyung yang hampir saja kulupa keberadaannya

“Hangkyung.” Ujar Hankyung seraya mengulurkan tangannya

“Kangin.” Kangin oppa membalas uluran tangan Hankyung

“Yeonsu-a, kita pulang sekarang.” Ajak Kangin oppa

“Nde.” Jawabku, “Hangkyung-ssi, kita pulang bareng kapan-kapan saja yah.”

“Mm, keureyo.” Jawab Hankyung

“Kajja.” Ajak Kangin oppa lagi

“Annyeong.” Pamitku pada Hankyung

Hankyung melambaikan tangannya.

“Oppa, kau belum menjawab pertanyaanku. Kenapa kau ada di sekolahku? Bukannya hari ini kau harus menjemput Sangeun onnie?” tanyaku sambil berjalan disebelahnya

Tiba-tiba dia berhenti dan berjongkok tepat di depanku.

“Mwoeyo?” tanyaku benar-benar bingung

“Ayo naik.” Jawabnya

“Mwo?” aku mengernyitkan dahi

Dia menarik tanganku dan membuatku mendarat di punggungnya. Dia berdiri dan berjalan pelan menyelusuri jalan.

“Oppa, kau tidak membatalkan janjimu karena aku kan?” tanyaku

Kangin oppa menggeleng

“Jinja?”

“Mm…” Kangin oppa mengangguk pelan

“Bagaimana sekolah barumu?” Tanya Kangin oppa

Aku mengangguk senang, “O, tapi aku belum punya teman oppa.”

“Aku yakin, sebentar lagi kau akan punya teman yang banyak. Kau kan anak yang ceria.” Hiburnya

Ini yang kusuka darinya. Dia selalu bisa membesarkan hatiku. Bahkan disaat aku benar-benar down, dia bisa membuatku bangkit lagi.

“Jeongmal?”

“’O.” gumamnya

“Oppa, aku ingin makan ddokbokki.” Sahutku

“Ddokbokki? Jigeum?” tanyanya meyakinkan

“Nde.” Jawabku

“Arasseo.”

Dia melanjutkan berjalan. Aku memajukan badanku dan memeluk lehernya dari belakang. Benar-benar nyaman. Rasanya sangat damai memeluknya seperti ini.

“Oppa.”

“Mm…”

“Kau tidak lelah menggendongku sepanjang jalan seperti ini?”

“Ani. Kau kan sangat kurus. Menggendongmu sama saja seperti menggendong sekarung kapas.” Jawabnya, “Lagipula aku kan punya otot yang kuat.”

“Hahaha…” aku terkekeh di belakangnya, “Oppa, kau tidak punya otot. Di seluruh tubuhmu hanya ada lemak.”

“Kau ini.” Katanya, “Tapi, aku janji. Aku akan menggendongmu sampai aku benar-benar tidak bisa menggendongmu lagi.”

“Jinja?”

“Jeongmal.

“Kau janji yah oppa?”

“Mm.”

Aku mengangkat tanganku di depan wajahnya. Ku kepalkan tanganku dan mengeluarkan jari kelingkingku. Dia melepas salah satu tangannya yang sejak tadi menahanku. Dia melingkarkan kelingkingnya di kelingkingku.

“Aku janji.”

:::

Pelajaran hari ini sudah usai. Hari ini, Hankyung tidak memindahkan kursinya dan berbagi buku denganku. Itu karena aku sudah punya buku untuk semua pelajaran hari ini.

Entah kenapa, aku malas pulang hari ini. Aku duduk di tangga pendek di depan sekolahku sambil memperhatikan murid-murid yang mulai berkurang. Hari ini, aku yakin Kangin oppa tidak akan datang. Dia ke Jeju semalam dan baru akan pulang sore ini.

Tiba-tiba sebuah motor hitam berhenti tepat di depanku. Seseorang yang memakai jaket kulit hitam membuka helm-nya.

“Hankyung-ssi?” jeritku tidak percaya

“Kau tidak pulang?” tanyanya tanpa turun dari motor

Aku menggeleng, “Malas.”

“Kau mau jalan-jalan denganku?” usulnya

Mendengarnya, aku langsung berdiri.

“Odi?” tanyaku

“Mm… bagaimana kalau ke pantai?”

“Deal!” jawabku setuju

Hankyung tersenyum kecil. Dia memberikan sebuah helm padaku. Setelah aku memakai helm itu, aku naik ke motor.

“Pegangan yang erat.” Katanya dari depan

Dengan gugup aku memegang ujung jaket Hankyung. Tiba-tiba Hankyung memutar gas motornya kencang. Hampir saja aku terjatuh, refleks aku melingkarkan kedua tanganku di pinggang Hankyung.

Cukup lama, aku baru sadar dengan posisiku. Jantungku langsung berdetak lebih cepat. Aku yakin, dia bisa merasakan degup jantungku yang tidak keruan. Sekitar lima belas menit di atas motor, akhirnya kami sampai di pantai.

“Wah… Jinja areumdawo.” Ujarku takjub

Hankyung melepas helm-nya dan ikut turun dari motor.

“Kau mau jalan-jalan?” tanyanya

Aku mengangguk senang.

Kami melepas sepatu dan berjalan menyelusuri pantai sambil menenteng sepatu kami.

“Seandainya aku bawa kamera.” Gumam Hankyung penuh sesal

“Tunggu sebentar.” Ujarku seraya merogoh-rogoh isi tasku

“Tada…” seruku sambil mengangkat sebuah benda berwarna pink

“Kau bawa?” tanyanya tidak percaya

Aku mengangguk, “Aku selalu membawanya kemana-mana.”

Kami pun mengambil posisi dan mengambil photo sendiri. Karena kameraku, kamera Polaroid, photonya pun langsung keluar.

“Kyeopta.” Kataku sambil melihat photo-photo itu, “Aku akan meletakkannya di kamarku.”

“Jinja?” Tanya Hankyung

“Mm.”

“Kalau begitu aku juga mau. Berikan juga photo untukku.” Pinta Hankyung

Aku memberinya dua buah photo yang juga lumayan lucu.

“Aku akan menulis sesuatu untukmu.” Kataku

“Mwo?”

Aku mengambil sebuah ranting kecil di dekatku. Aku menuliskan satu kata yang cukup besar di pasir.

G.O.M.A.P.T.A

“Wae gomawo?” Tanya Hankyung begitu selesai membaca pesanku

“Aniyo.” Aku menggeleng

Aku tersenyum kecil ke arah Hankyung.

:::

Aku mengulurkan helm ku pada Hankyung.

“Gomawo.” Ujarku lagi

“Lain kali kau masih mau kan jalan-jalan denganku lagi?” tanyanya

“Semoga saja bisa.” Jawabku seadanya

“Arasseo. Kalkeyo.”

“Annyeong.”

Hankyung melajukan motornya dengan cepat.

Aku berjalan ke dalam rumahku.

“Omma! Aku pulang!” teriakku sambil membuka sepatuku

“Urittal… kenapa kau baru pulang?” tanyanya saat menghampiriku

“Mianhe omma. Tadi aku jalan-jalan dulu baru pulang.” Jawabku lalu masuk ke rumah

“Kau tidak terlalu lelah kan?” tanyanya

“Aku senang sekali omma. Tidak capek sama sekali.” Jawabku

“Aratta. Kau sudah makan?” Tanya omma lagi

“Belum omma. Baegupa.” Keluh ku sambil memegang perutku

“Sudah omma duga. Makanlah dulu. Omma sudah siapkan makanan kesukaanmu, ddokbokki.” Ujar omma

“Jinja? Gomawoyo omma.” Aku mengecup pipi kanan omma dan berlari ke ruang makan

Aku menyantap makanan kesukaanku itu dengan lahap hingga tandas.

:::

Kepalaku benar-benar sakit. Rasanya seperti sebuah benda berton-ton mendarat di kepalaku. Aku bisa merasakan keringat dingin bercucuran di seluruh tubuhku.

Omma sudah duduk di sebelahku sambil menyelimutiku.

“Gwencana?” tanyanya cemas

Aku menggeleng, “Gwencanayo omma. Kau jangan cemas.”

“Aku ambilkan air untukmu yah.” Kata omma menawarkan

Aku mengangguk lemah.

Sekarang, aku sendiri di kamarku di balik selimut pink ku yang tebal. Tangan kanan ku terus memijit kepalaku yang sakit. Sementara tangan kiriku memegang dadaku yang terasa sesak. Aku berusaha menarik napas, tapi rasanya tertahan di dadaku. Aku semakin sulit bernapas. Kepalaku pun semakin terasa sakit.

“Yeonsu-a.” seru seseorang

Kangin oppa berlari ke kamarku dan langsung berjongkok di depanku. Tatapannya benar-benar cemas.

“Wae geude?” tanyanya sambil menggenggam tanganku

Aku menggeleng lemas. Aku berusaha tersenyum padanya.

“Gwencana?” tanyanya lagi

“Oppa, kau mau mengajakku jalan-jalan ke taman?” pintaku

Kangin oppa tidak menjawab. Dia melihat ke pintu kamar, dimana ommaku sedang berdiri. Omma mengangguk pasrah.

“Mm… kajja.” Ujarnya

Kangin oppa membantuku bangun dari tempat tidurku. Dia bahkan membantuku  memakai jaket tebal dulu. Lalu menuntunku berjalan keluar rumah. Begitu tiba di pagar, Kangin oppa berjongkok lagi di depanku.

“Ayo naik.”

Tanpa berpikir lagi, aku naik ke punggung Kangin oppa. Dia menggendongku sepanjang jalan ke taman yang tidak jauh dari rumahku. Angin malam itu tidak terlalu kencang. Tapi bisa menusuk ke tulang rusukku.

“Aku baru meninggalkanmu sebentar, kenapa kau tiba-tiba seperti ini?” protes Kangin oppa

Aku terkekeh sebentar, “Oppa, kau pernah berjanji akan menggendongku sampai kau tidak bisa menggendongku lagi kan?”

Kangin oppa mengangguk mantap

“Kalau begitu, biarkan aku berada di sini sepanjang malam ini.”

Kangin oppa tidak menjawab.

“Oppa…”

“Mm?”

“Gomawoyo. Selama ini, kau benar-benar sudah menjagaku. Kau sudah menjadi orang terpenting di hidupku. Oppa bahkan sudah jadi nomor satu di hatiku.”

Kangin oppa tidak memberikan respon

“Oppa selalu menghiburku di saat aku sedih, selalu membantuku bangkit dari segala keterpurukanku, selalu membuatku percaya akan adanya keajaiban di dunia ini. Selama ini, oppa yang mengajarkan aku apa itu sayang, dan seperti apa rasa sayang itu. Oppa selalu ada di saat-saat aku membutuhkan seseorang. Bahkan kalau aku tidak mengatakan apa-apa, oppa bisa tahu apa yang kupikirkan.”

Kangin oppa masih terus berjalan. Dia tidak memberikan jawaban apapun.

“Mianheyo. Selama ini aku sudah menjadi beban di hidup oppa. Oppa harus menghabiskan waktumu sepanjang hari bersamaku. Bahkan mengorbankan cinta oppa untukku. Mianhe oppa, aku tidak bisa memberikan sesuatu yang berharga dalam hidupmu.”

Aku merogoh kantung celanaku dan mengeluarkan sesuatu. Aku memajukan tanganku dan memakaikan kalung berliontin hati itu di leher Kangin oppa.

“Aku hanya bisa memberikan ini, oppa. Hati ini akan selalu dekat di hati oppa.” Ujarku sambil memakaikannya

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat mendarat di punggung tanganku. Aku menatap tanganku yang menjadi basah.

“Oppa, kau menangis?”

Aku menjulurkan leherku dan berusaha melihat wajah Kangin oppa.

“Uljimayo. Aku tidak suka melihat kau menangis oppa.” Kataku

“Arasseo.”

Aku menghapus air matanya. Justru air mataku yang tidak bisa ku control. Air mataku terus mengalir tak terkontrol.

Kueratkan pelukanku di lehernya. Aku menyenderkan kepalaku di bahunya. Aku akan merindukan kehangatan ini, aroma tubuhnya yang khas, dan rasa damai yang tidak akan pernah kudapatkan di mana pun di dunia ini. Kututup mataku perlahan dan terus memeluknya.

:::

~~Kangin POV~~

Kangin menatap gundukan tanah yang masih merah dan basah di depannya. Air matanya mengalir dengan mulus di pipinya. Matanya beralih ke sebuah nisan yang bertuliskan nama yang selama ini mengisi hari-harinya.

Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya. Kangin berbalik dan mendapati wanita yang sangat dikenalnya.

“Sangeun?” ujar Kangin, “Kenapa kau bisa ada di sini.”

“Aku turut berduka. Aku baru tahu kabarnya pagi ini.” Jawab Sangeun

“Gomawo.”

Sangeun mengulurkan sepucuk surat pada Kangin.

“Ige mwoya?” Tanya Kangin seraya menerima surat itu

“Ini alasan kenapa aku kembali ke sisimu setelah pertengkaran besar kita kemarin.” Jawab Sangeun lagi

Kangin membuka surat itu. Tulisan tangan yang tidak asing lagi di matanya.

To : Sangeun onnie

Annyeonghaseyo onnie. Kau pasti sudah mengenalku. Aku Yeonsu, tetangga Kangin oppa sejak kecil.

Aku tahu, saat ini onnie pasti ingin sekali merobek-robek surat ini dan membuangnya ke tempat sampah. Aku tahu, kalau onnie marah padaku karena Kangin oppa selalu lebih mengutamakan diriku dibanding siapa pun, termasuk onnie yang kini jadi pacar Kangin oppa.

Mm… aku ingin minta maaf karena ini. Jinja jeosungeyo onnie.

Aku harap onnie bisa mengerti dengan keadaan ini. Kangin oppa memperhatikanku, bukan berarti dia tidak menyayangi onnie. Dia melakukan itu karena dia khawatir dan selalu ingin menjagaku. Ini semua karena hatiku yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak kecil aku mengalami kelainan hati yang menyebabkan aku mudah sakit. Makanya Kangin oppa sangat memperhatikanku.

Aku tahu kalau Kangin oppa sangat mencintai onnie. Pertama kali Kangin oppa melihat photo onnie di majalah, dia langsung bilang, “Aku suka padanya. Dia akan menjadi pacarku kelak.”

Jadi, aku mohon jangan pergi dari Kangin oppa. Tetaplah berada disisinya dan menemaninya. Dia akan sangat membutuhkan onnie kelak.

Gomawoyo onnie…

From : Shin Yeonsu

Air matanya makin deras mengucur.

“Kau harus merelakan kepergiannya.” Bisik Sangeun

Kangin menghapus air matanya, “Kau benar, dia tidak akan suka melihatku terus-terusan bersedih.”

Sangeun merangkul bahu Kangin dan berusaha menenangkannya.

:::

~~Hankyung POV~~

Hankyung membuka surat yang baru diambilnya dari kotak surat.

To : Hankyung-ssi

Annyeong, Hankyung.

Aku mengirim surat ini, hanya ingin mengucapkan gomawo untuk semua yang kau berikan padaku di waktuku yang singkat. Itu adalah kenangan terindah dalam hidupku. Karena dirimu, aku tahu yang namanya cinta. Aku tahu bagaimana rasanya salah tingkah kalau berada di dekat orang yang kucintai. Hal terbaik dalam hidupku adalah bisa mengenal dirimu.

Mianhe, aku tidak bisa mengutarakan perasaanku secara langsung. Dan karena kita hanya punya sedikit waktu untuk bersama.

Aku harap kau bisa melanjutkan hidupmu yang sangat berharga dan bisa menemukan belahan jiwamu yang tepat. Aku akan selalu mendoakanmu.

Gomawo, Hankyung-ssi…

Saranghaeyo…

From : Shin Yeonsu ❤

Author :

ೡSpecialAngelೂ

NEVER TAKE OUT THIS!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s