| FF Serial | Believe in Miracle | Scene 10|

Cast Ce:
********
`>Shin Yoora * GaluhOnnie
`>Shin Iseul * ViraLuph AngelTeuk
`>Chi yoko * Oi
`>Park Soonrye * Herentia
`>Lee Youngran * Fe”
`>Min jee * Kerri
`>Kim Hyunjae * Elisa
`>Mi young * Miyoung
`>Kim Hyun In * Inriana
`>Han Yerin * Yerin
`>Choi Hajin * Audrey
`>Shinmei * Veronica
`>Kim Hyena * Yemima
`>Kim Eunsoo * Ruri
`>Lee Si Hyun * Luisa
`>Cho Hyungrim * Ardelia

Cast Co:
********
All member of Super Junior ❤ ❤

Spesial cast:
*************
❤ Hwang Chansung 2PM ❤
❤ Choi Kang Chang Min DBSK ❤

PaRt 10 StaRt…
***************
Miyoung berjalan memasuki rumah sakit

“Donghae apa wajahku baik-baik saja? Iseul tidak akan tahu kan kalau aku menangis semalaman?” Tanya Miyoung pada Donghae yang berjalan di sebelahnya

“Aniyo. Kau tidak usah cemas. Iseul akan baik-baik saja. Yang akancemas kalau kau seperti ini yah aku.” Jawab Donghae
“Nde?”
“Ani. Kajja.”
Dengan gugup, Donghae mendekatkan tangannya ke tangan Miyoung yang

hanya berjarak lima senti dari tangannya. Akhirnya dia berhasil

memegangnya. Miyoung sempat kaget dan menatap Donghae. Lalu Miyoung

hanya tersenyum dan kembali berjalan.
“Oppa?” tegur seseorang tidak jauh dari Donghae
Karena kaget, Miyoung menarik tangannya
“Yerin? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Donghae
“Oppa? Siapa dia?” Tanya Yerin lagi
“Oh, dia Miyoung. Miyoung, dia Yerin.” Sahut Donghae
Miyoung menundukkan kepalanya. Yerin juga menundukkan kepalanya

tanpa senyum sama sekali
“Apa ommamu sakit?” Tanya Donghae lagi
“Aniyo, oppa. Kata dokter, omma harus di rawat inap. Supaya

penyembuhannya lebih cepat. Karena omma sudah menunjukkan

perkembangan yang baik.” Jawab Yerin yang terus melihat ke arah

Miyoung
“Um.. aku akan menengok omma mu nanti.” Ujar Donghae
“Ne, oppa.”
Donghae dan Miyoung pun berlalu.
“Sepertinya dia tidak menyukaiku.” Bisik Miyoung pada Donghae
Donghae hanya tersenyum kecil.

:::

Hati Yerin benar-benar serasa diiris-iris silet. Matanya mulai

berkaca-kaca saat melihat Donghae kembali menggenggam tangan

Miyoung.
Yerin berlari ke kamar Ommanya. Ommanya duduk di kursi roda sambil

melihat keluar melalui jendela.
“Omma..” Yerin berjongkok di depan ommanya
Yerin membenamkan kepalanya diantara paha ommanya. Air matanya

mengalir deras
“Wae geude?” Tanya ommanya sambil mengelus lembut kepala Yerin
“Omma, apa aku harus melupakannya?” Tanya Yerin lemah
“Nugu? Donghae-ssi?” Tanya ommanya balik
“Omma? Kau sudah ingat Donghae oppa?” Yerin mengangkat kepalanya

dan melihat ommanya tidak percaya
“Dia yang selama ini membantu kesembuhan omma kan? Mana mungkin aku

lupa.” Ommanya tersenyum manis pada Yerin
Entah sudah berapa lama, Yerin tidak melihat senyum itu. Air mata

Yerin makin deras mengucur
“Omma, apa kau mengingat.. m.. Gyeok soo oppa?” Tanya Yerin takut
“Sudahlah. Aku sudah bisa menerima semuanya, Yerin. Apalagi

kepergian Gyeok soo. Sekarang kau tidak usah cemas lagi pada ommamu

ini.” Omma Yerin tersenyum lagi
“Omma! Aku benar-benar merindukanmu!” Yerin langsung memeluk

ommanya erat
Sejak Gyeok soo meninggal, Yerin tidak pernah merasakan kehangatan

pelukan ommanya.
“Sebaiknya kau bilang pada dokter, kalau omma sudah sembuh. Omma

sudah mau pulang.” Sahut ommanya
“Arasseo omma. Geunde, kita tunggu Donghae oppa dulu. Katanya dia

akan ke sini menjenguk omma. Dia pasti senang melihat omma sudah

sembuh.”
Yerin tersenyum melihat wajah ommanya yang kembali bersinar

:::

Shinmei menginap di apartment Heechul malam itu, tentu saja

ditemani Eunsoo. Untungnya orang tua Shinmei sedang tidak ada di

Seoul.
“Sebaiknya kau lupakan saja Sungmin itu.” Ujar Eunsoo pada Shinmei

pagi itu
Mereka berdua sedang duduk di balkon
“Aku sudah menyukainya sejak dulu. Susah untuk melupakannya.” Jawab

Shinmei
“Kau yakin kalau kau menyukainya? Apa saat kau melihatnya,

jantungmu berdetak tidak karuan? Apa kau bahagia saat melihatnya

meskipun itu dari jarak jauh?”
“Mm..”
“Aku yakin kau tidak bisa menjawabnya. Itu karena kau hanya

penasaran padanya. Karena sejak kecil, dia tidak pernah

memperdulikanmu.”
Shinmei memang sudah menceritakan semuanya pada Eunsoo
“Tapi aku yakin kalau aku menyayanginya.”
“Kalau kau sayang padanya, kau pasti bisa melepasnya.”
“Maksud onnie?”
“Seseorang akan merasakan kebahagiaan saat melihat orang yang

disayanginya bahagia. Kau bisa?”
“Kalau itu, aku akan berusaha melakukannya.”
“Aku, Heechul oppa, dan pastinya Hankyung pasti akan selalu

mendukung dan membantumu.”
“Gomawo onnie.”
Shinmei memeluk Eunsoo. Setetes air matanya mengalir.
“Apa yang kalian lakukan?” Heechul tiba-tiba muncul
“Oppa! Kenapa masuk tanpa mengetuk dulu?” protes Eunsoo
“Ini rumahku. Lagian kau itu milikku. Kau tidak boleh dipeluk

sembarangan orang.” Timpal Heechul
“Sejak kapan aku menjadi milik oppa?”
“Eunsoo?!”
“Bercanda oppa!” Eunsoo langsung mendekati Heechul dan mencium

pipinya
Shinmei tersenyum melihat kelakuan pasangan yang rada sarap itu.

:::

Jungsoo terbangun dari tidurnya. Tiba-tiba dia mengingat Iseul.
“Tidak biasanya dia tidak menelpon dan mengirim pesan padaku

seharian kemarin.” Batin Jungsoo yang masih duduk di kasurnya
Saat dia hendak mengambil ponselnya, dia melihat selembar kertas di

bawah ponselnya
____________________
Oppa.. Iseul pingsan kemarin. Mianhe, aku baru memberi tahumu.

Kemarin oppa pulang malam. Aku tidak tega membangunkan oppa pagi

ini. Iseul ada di Blue Hospital kamar SJ13.
Aku ke rumah sakit dengan Donghae. Sarapan oppa sudah aku siapkan

di atas meja.

Miyoung
____________________
“Mwo? Aiish.. kenapa dia baru memberi tahuku.” Omel Jungsoo
Dengan cepat, dia mengambil handuknya dan berlalu ke kamar mandi

:::

“Sihyun, kenapa kau tiba-tiba pulang ke sini?” Tanya Yoora yang

duduk bersama Sihyun di ruang tunggu
“Onnie, kau kan tahu kalau Chansung oppa sangat dekat dengan Iseul.

Saat dia tahu Iseul masuk rumah sakit, dia benar-benar panik.

Seharian oppa menunggu kabar dari Onnie, tapi onnie tidak menelpon.

Oppa sampai meninggalkan hotelnya demi Iseul.” Jawab Sihyun
“Jinja?” Yoora seakan tidak percaya
“Onnie, kau seperti tidak mengenal Chansung oppa.”
“Aku tahu mereka dekat. Tapi, aku tidak menyangka kalau dia bisa

seperti itu.”
“Sepertinya onnie memang tidak tahu. Saat itu, onnie sering tidak

di rumah. Mungkin karena keadaan di rumah onnie. Setiap hari Iseul

selalu datang ke rumah. Aku sering melihat Iseul menangis di depan

oppa. Sepertinya Iseul selalu curhat pada oppa.”
“Ye? Pantas saja, saat Chansung oppa pindah ke Bali, Iseul jadi

berubah.” Yoora mengangguk-angguk, “Oh iya, kau sudah tahu kalau

Hangeng ada di Seoul?”
“Nde.” Sihyun melempar pandangannya ke tempat lain
“Kau tidak mau menemuinya?”
“Molla onnie. Aku tidak tahu apa aku bisa berhadapan dengannya.”
“Kau jangan seperti itu. Biarpun dia hanya kakak tirimu, tapi kau

tetap harus berhubungan baik dengannya.”
“Arasseo onnie.”
Yoora tidak lagi memberi komentar. Hingga saat ini, Sihyun memang

belum bisa menerima pernikahan ommanya dengan appa Hangeng.

Makanya, dia tinggal dengan sepupunya, Chansung.
“Onnie, Iseul bagaimana?” Tanya Miyoung yang baru datang bersama

Songhae
“Dia sudah lebih baik. Dia sedang bersama Chansung oppa sekarang.”

Jawab Yoora
“Chansung?” Miyoung mengerutkan keningnya
“Nde. Dia tetangga kami dulu saat kami tinggal di Seoul sebelum

pindah ke Incheon.”
Miyoung mengangguk, “Lalu Yesung oppa?”
“Dia pergi membelikanku handuk.” Jawab Yoora

:::

“Oppa, aku bosan di sini.” Sahut Iseul
“Mm, bagaimana kalau kita ke taman?” usul Chansung
“Oppa memang tau apa di pikiranku.” Iseul tersenyum
Chansung membantu Iseul naik ke kursi roda dan membawanya ke taman

rumah sakit. Chansung duduk di kursi taman di sebelah kursi roda

Iseul.
“Oppa..” sahut Iseul tanpa melihat ke Chansung
“Mm..”
“Bogoshipoyo.”
“Mianhe.”
“Nde? Kenapa oppa minta maaf?”
“Kau sakit seperti ini karena aku. Dulu, kau pasti selalu cerita

apa yang ada di hatimu padaku. Ini semua karena keegoisanku yang

pindah dan meninggalkanmu di sini.”
“Ini bukan salah oppa. Ini karena aku yang selalu tertutup pada

orang lain.”
“Apa mulai sekarang kau bersedia menceritakan semuanya lagi

padaku?”
“Nde, tentu saja oppa. Hingga saat ini, aku belum bisa mendapatkan

orang yang bisa aku ajak curhat seperti oppa. Oh, kecuali..”
“Nugu?”
“Aniyo.”
“Kau sudah mulai menyembunyikan sesuatu padaku.”
“Mm.. dia bernama Jungsoo. Dia pacarku, oppa.”
“Kau sudah punya pacar?”
“Nde..”
Jantung Chansung serasa berhenti berdetak. Penyesalan menjalari

seluruh tubuhnya. Dia tidak menyangka kalau ketakutannya selama ini

benar-benar terjadi
“Ternyata kau sudah besar.” Chansung mengacak rambut Iseul,

“Bagaimana kalau aku traktir makan di kantin?”
“Shiro. Aku ingin makan yang lain.”
“Apa? Jangan bilang…”
“Pat bing soo..” sahut mereka bersamaan
“Kau tidak berubah. Tapi kau sedang sakit, kalau kau sudah sembuh

aku akan belikan selusin porsi untukmu.” Ujar Chansung
“Oppa, jinca bogoshipda!”
Iseul memeluk Chansung erat. Hati Chansung makin sakit.

:::

Jungsoo meremas tangannya dengan keras. Darahnya serasa panas

mengalir. Jungsoo melihat dari jauh Iseul dan Chansung yang sejak

tadi tampak mesra bahkan berpelukan.
Jungsoo mengikuti Chansung yang mengantarkan Iseul kembali ke

kamarnya. Begitu mereka sudah di dalam, Jungsoo menyusul kedalam
“Oppa..” sahut Iseul begitu melihat Jungsoo
“Kita bisa bicara berdua?” Tanya Iseul
Akhirnya, Yoora, Changsung, Sihyun, Miyoung, Yesung dan Donghae

keluar.
“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau sakit?” Tanya Jungsoo
Jelas sekali dia menahan amarahnya
“Aku tidak mau oppa khawatir.” Jawab Iseul
“Lalu siapa pria yang kau peluk dengan mesra di taman tadi?”
“Oppa mengintip kami?”
“Aku tidak sengaja melihatmu dengannya. Kenapa? Kau malu karena

ketahuan olehku?”
“Oppa? Apa yang kau katakan?” mata Iseul mulai berkaca-kaca
“Apa karena dia, kau tidak mau memberitahuku kalau kau masuk rumah

sakit! Karena lelaki tidak tahu diri itu?”
“OPPA!”
“Wae? Sekarang kau marah padaku karena dia?”
“Oppa sudah keterlaluan!” air mata Iseul tak terbendung lagi
“Kalau begitu hubungan kita sampai di sini saja.”
“Keure! Jangan menghubungiku lagi! Nagaseyo!” teriak Iseul
Jungsoo membanting pintu dan mengacuhkan Miyoung yang berteriak

memanggilnya.

:::

Berjam-jam Hyunin melakukan pemotretan. Dia benar-benar lelah

sekarang. Dia memasukkan koin ke dalam mesin minuman. Beberapa

menit, Hyunin menunggu minumannya keluar. Tapi sama sekali tidak

ada yang bergerak keluar. Hyunin menendang mesinnya. Selembar

kertas terjatuh.
________
MAAF! MESIN INI MENGALAMI KERUSAKAN.
________
“Aiish..” omel Hyunin
Terpaksa dia mengurungkan niatnya untuk minum dan turun ke

parkiran, dia rasa langsung pulang lebih baik.
Hyunin memutar kuncinya, berusaha men-starter mobilnya. Tapi

mobilnya tidak mau menyala. Dengan kesal Hyunin memukul setirnya.

Tiba-tiba dia mengingat seseorang
“Apa dia benar-benar akan ada disini dalam waktu lima menit? Aku

jadi penasaran.”
Hyunin mengeluarkan ponselnya
“Ada yang bisa kubantu?” Tanya Eunhyuk langsung begitu menjawab

telponnya
“Eunhyuk-ssi, kau bisa ke tempat pemotretanku sekarang?” sahut

Hyunin ragu-ragu
“Kau dimana sekarang?”
“Di parkiran.”
“Arasseo… lima menit aku akan berada di sana.”
Eunhyuk lalu memutuskan telponnya
“Apa dia benar-benar akan datang? Mm.. tidak ada salahnya menunggu.

Cuma lima menit ini.”
Hyunin memperhatikan jamnya dengan seksama. Menghitung tiap

detiknya.
“Enam.. Lima.. Empat.. Tiga.. Dua..”
“Piip!!” suara klakson mengagetkan Hyunin
Sebuah motor tepat berada di depan mobil Hyunin. Seseorang yang

berada di atas motor itu, melepaskan helmnya. Dia tersenyum pada

Hyunin. Entah kenapa, jantung Hyunin rasanya berdetak makin cepat.

Hyunin keluar dari mobilnya.
“Sudah kubilangkan. Lima menit!” Eunhyuk mengedipkan matanya
Hyunin makin salah tingkah
“Mmm.. chogiyo, kau bisa mengantarku pulang? Sepertinya mobilku

mogok.” Sahut Hyunin
“Tentu saja. Ayo naik!”
Eunhyuk memberikan helm pada Hyunin. Dengan pelan, Hyunin naik ke

motor Eunhyuk
“Pegang yang erat!”
Eunhyuk langsung melajukan motornya dengan cepat. Mau tidak mau,

Hyunin memeluk Eunhyuk. Eunhyuk hanya tersenyum sambil terus

mengendarai motornya

:::

Jungsoo berjalan tanpa arah. Rasa cemburu benar-benar menyelimuti

pikirannya. Dia benar-benar marah sekarang.
Jungsoo menendang kaleng bekas minuman dengan keras.
“Auw!” teriak seseorang tidak jauh dari tempat Jungsoo berdiri
Jungsoo mencari-cari sumber suara itu.
“Hya! Kau pikir kepalaku tong sampah?” teriak orang itu
Jungsoo mendekati orang itu.
“Youngran-ssi?”
“Jungsoo-ssi? Kau yang melempar kaleng itu?”
“Mianhe. Karena kesal, aku hanya asal menendangnya.” Jungsoo

menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal
“Kau kesal kenapa?”
“Sepertinya aku dan Iseul memang tidak cocok.”
“Iseul? Oh, pacarmu itu? Ada apa dengannya?”
“Dia sakit tapi dia sama sekali tidak memberitahuku.”
“Bukannya kau melakukan hal yang sama dulu?”
“Mm.. tapi, aku punya alasan yang jelas. Sedangkan dia, dia tidak

memberitahuku bahkan dia berpelukan dengan pria lain dengan mesra

di rumah sakit.”
“Aku rasa kau harus memikirkan tindakanmu selanjutnya

matang-matang. Kau tidak bisa mengambil keputusan yang benar saat

kau sedang marah.”
“Aku dengannya sudah putus. Tidak ada lagi yang harus dipikirkan.”
“Semuanya terserah padamu.”
Youngran menatap Jungsoo. Sesuatu menggetarkan hatinya. Dia tidak

pernah merasakan ini sebelumnya. Youngran prihatin dengan masalah

Jungsoo, tapi di hatinya dia merasa bahagia mendengarnya.
“Aku tidak boleh merasa bahagia seperti ini.” Batin Youngran
Tanpa dia sadari, Youngran menggelengkan kepalanya.
“Waeyo?” Tanya Jungsoo yang menatap Youngran heran
“Ah? Ani.” Jawab Youngran salah tingkah

:::

Satu jam yang lalu, Siwon sadar. Hyena yang menjaga Siwon sendiri

karena omma Siwon menggantikan Siwon mengurusi perusahaan dan Yoko

ke kampus.
Hyena membantu Siwon memakan buburnya
“Oppa, apa kau bisa katakan padaku alasan kau melarang Yoko

berhubungan dengan pria yang belum pernah kau temui itu?” Tanya

Hyena sambil terus menyuapkan buburnya
“Itu…”
“Kalau oppa belum bisa menjawabnya, gwencanayo. Geunde oppa,

kelihatannya Yoko suka pada pria itu. Dia benar-benar sedih oppa

melarangnya bertemu dengan orang itu.”
“Kau jangan memaksaku untuk merubah pikiranku.” Ujar Siwon
“Oppa! Kau sudah sadar?” Yoko langsung berlari ke arah Siwon dan

memeluknya
“Yoko, jangan memeluknya terlalu kencang. Oppa susah menelan

buburnya.” Tegur Hyena
“Oh, mianhe.” Yoko melepaskan pelukannya, “Oppa, gwencana?”
“Nde. Aku ini kan super hero. Mana mungkin aku terluka parah hanya

karena hal seperti itu.” Sahut Siwon membanggakan dirinya
“Gomawo..” air mata Yoko tiba-tiba mengalir
“Hya! Kenapa kau menangis?” kata Siwon
“Oppa, untung saja kau tidak apa-apa. Aku tidak tahu, aku akan

seperti apa kalau oppa tidak ada.” Yoko berusaha menghapus air

matanya
“Uljima!” sahut Siwon
Hyena meletakkan mangkuknya di meja dan mendekati Yoko
“Sudahlah.” Hyena merangkul Yoko
“Mianhe, oppa. Aku janji, tidak akan membantah oppa lagi.”
Yoko persis seperti anak-anak, dia menghapus air matanya terus

mengalir dengan lengannya
“Sini.” Siwon membuka lengannya, Yoko langsung memeluk Siwon
“Aku janji akan menuruti oppa.”
“Saranghe.” Ujar Siwon sambil memeluk Yoko erat

:::

Seseorang yang mengenakan jaket kulit coklat keluar dari pintu

bandara. Dia menarik kopernya sambil celingukan mencari seseorang.
“Hyung!” teriak Kyu
Dia mendekati orang itu
“Kyu? Kenapa kau yang menjemputku?” Tanya Changmin sambil melepas

kacamatanya
“Molla. Tiba-tiba saja nunna menyuruhku menjemputmu. Palingan dia

mempersiapkan sesuatu untuk menyambutmu.” Ujar Kyu tanpa piker

panjang
“Dia memang selalu seperti itu. Tapi sejak dulu, rencananya tidak

pernah berhasil. Entah dia melakukan apa lagi sekarang.”
“Molla, hyung. Kajja! Nunna pasti sudah menunggumu.”
Kyu menarik koper Changmin. Changmin mengikutinya naik ke mobil.

***********
Part 10 end

Author :

ೡSpecialAngelೂ

NEVER TAKE OUT THIS!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s