|| 3rd FF | Everlasting Love | Part 1 ||

Annyeong gals!!! ^^

Mianhe, akhir-akhir ini mood Vira lagi naik turun. Jadi, buat yang dah tag Vira ff nya n blum Vira koment sama sekali, Vira mohon maaf!!! Tapi, janji deh… bakal di koment kok…
Eit.. kok jadi ngomongin yang lain sih? Berhubung mood Vira gi labil *?*, jadi daya imajinasi Vira juga gi ngadat n tiba-tiba muncul inspirasi tuk buat FF baru. Pasti ada yang nanya, apa hubungannya ama mood? Ye, terserah Vira dong.. kekkekek… *dilempar sandal, panci, ember, n lemari ma reader* XPP
Ya udah deh, dari pada author makin banyak ngomong, mending langsung sambut FF baru Vira aja.. Harus disambut dengan meriah yak!! ^^”
Nih masih prolog kok… Makanya masih pendek banget. Tapi Vira bakalan berusaha tuk lanjutin ff ini n smua ff yang dah ktunda..
Happy reading!!

Tetep promosi nih…
Join di group fb elf4suju
http://www.facebook.com/group.php?gid=345549230215
Follow twitter elf4suju
http://twitter.com/elf4sj
Gabung di social network elf4suju
http://elf4suju.wackwall.com/

=======================================================

Hari ini, Mimi kembali lagi ke tempat ini. Dirinya tak kuasa menahan keinginan hati untuk tetap kembali ke tempat itu. Tempat yang setahun ini selalu membuat hatinya galau begitu dia melangkahkan kakinya keluar dari tempat yang dingin ini.
Matanya yang belo menatap lurus ke gerbang di depannya. Terus berdoa dan berharap, pria yang sangat dia cintai keluar dari gerbang itu dan berlari memeluknya erat. Mimi melirik jam besar yang tergantung di atas gerbang itu. Tanpa dia sadari, dia sudah berdiri di sini selama tiga jam.
Ponsel di sakunya bergetar. Mimi merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel.
“Halo.” Jawab Mimi pelan
“MIMIII!” teriak seseorang dari seberang
Mimi menjauhkan ponselnya beberapa centi dari telinga.


“Jeanne, ngapain kamu teriak-teriak gitu?” protes Mimi pada salah satu sahabat baiknya itu
“Kenapa kau belum datang juga?” Jeanne sepertinya benar-benar marah kali ini
“Sori, aku lupa. Aku benar-benar lupa, Jeanne.”
Mimi mulai panic dan berjalan mondar-mandir. Mimi bisa mendengar desahan Jeanne di telepon.
“Kau pasti ke sana lagi kan?” tebak Jeanne
“Kamu ngomong apa sih? Aku sudah di jalan menuju ke tempatmu.” Sangkal Mimi berbohong
“Kau jangan bohong lagi padaku. Kita sudah berteman lama, Mimi. Aku tahu, kau sekarang ada di bandara. Iya kan?”
“Mm.. sebenarnya, iya.” Aku Mimi
“Benar kan? Sudahlah, kau cepat ke sini. Satu jam lagi, kalau kau belum sampai di sini, aku akan benar-benar mengamuk padamu.” Ancam Jeanne
“Aku tahu.”
Mimi memasukkan ponselnya lagi ke saku. Mimi berjalan hendak keluar dari bandara. Mimi berbalik dan menatap gerbang itu lagi penuh harap.
“Satu… Dua… Ti… mm, aku belum selesai menghitung. Aku yakin dia pasti muncul di hitungan ketiga.” Ujar Mimi pada dirinya sendiri seraya berjalan keluar.

:::

“Dia dimana?” Tanya Fefe begitu Jeanne memasukkan ponselnya ke tas
“Kau pasti sudah tahu.” Jawab Jeanne enteng
“Ke bandara lagi?” tebak Aira tepat
Jeanne mengangguk sementara Fefe, Aira, dan Dian hanya menggeleng.
“Dia benar-benar masih mengharapkan Seulong? Apa dia masih belum sadar?” komentar Fefe
“Sudahlah. Kita tidak usah memperpanjang masalah ini. Kita tidak bisa melakukan apa-apa saat ini. Aku mengerti bagaimana perasaan Mimi.” Timpal Aira
Dian mengangguk setuju, “Pasti sangat susah melupakan pria yang selalu berada di sisi kita selama bertahun-tahun, tapi tiba-tiba menghilang tanpa kabar.”
“Sebaiknya kita menunggu Mimi di dalam saja. Bandara kan, tidak terlalu jauh dari sini.” Ujar Jeanne yang di sambut anggukan yang lain
Mereka berempat berjalan ke dalam café.
Mimi, Fefe, Jeanne, Aira, dan Dian, sudah berteman sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Hingga sekarang, mereka berhasil masuk ke universitas yang mereka impikan sejak dulu, Korea University. Walaupun jurusan yang mereka pilih berbeda, tapi mereka tetap kompak. Bahkan mereka menyewa apartment yang sama. Dan sudah tinggal bersama sejak dua tahun lalu, di Seoul.
“Oh, iya. Sonrye dimana?” Tanya Dian yang baru menyadari ketiadaan Sonrye
“Astaga! Aku lupa bilang ke dia, kalau hari ini kita janjian ketemu di sini.” Jeanne menepuk jidatnya
“Ya, sudah. Biar aku sms dia saja.”
Fefe mengeluarkan ponselnya seraya memijit keypad ponselnya dengan cepat.
Nah, kalau yang satu ini, juga teman dekat mereka. Mereka dan Sonrye baru kenal begitu mereka masuk ke Korea University. Sebenarnya, Sonrye sejurusan dan lebih dekat dengan Fefe. Tapi, akhirnya mereka juga bisa akrab dengan Sonrye. Sonrye asli lahir di Korea, tepatnya di Ilsan.
“Annyeong!” teriak Mimi yang baru saja datang
“Kau ini lama sekali.” Protes Aira
“Kalian sudah lama di sini?” Tanya Mimi tanpa rasa bersalah dan langsung duduk di sebelah Fefe
“Menurutmu?” Fefe melirik sinis ke arah Mimi
“Arasseo-arasseo. Mianhe. Tidak akan terulang lagi.” Kata Mimi seraya memelas pada keempat temannya.
“Baiklah. Kali ini kau kami maafkan. Tapi, jangan pernah lupa dengan janjimu lagi.” Kata Jeanne dengan nada tegas
“Gomawo!” Mimi memeluk lengan Jeanne yang duduk di sebelah kanannya dengan manja
“Hya!” Jeanne menarik tangannya paksa
Mimi justru cengingisan, diikuti tawa dari yang lain.
“Annyeonghaseyo.” Sapa Sonrye, seperti biasa, dengan nada lembut
“Oh, Sonrye. Wasso? Cepat sekali?” Tanya Fefe
“Nde, kebetulan aku lagi jalan-jalan di sekitar sini. Begitu dapat sms darimu, aku langsung ke sini.” Jawab Sonrye pelan
Yup! Anak satu ini, memang beda dari lima sekawan ini. Sonrye memang lebih lembut dan polos. Beda dengan mereka berlima, yang jauh lebih ribut dan ramai. Nggak tau kenapa, mereka bisa seakrab sekarang.
“Oh, iya. Kenapa kita tiba-tiba ngumpul disini?” Tanya Sonrye begitu dia duduk
“Tidak ada alasan khusus sih. Cuman pengen ngumpul aja.” Jawab Dian
“Kalian tidak mau pesan? Hari ini, biar aku yang bayar.” Aira angkat suara
Yang lainnya menatap Aira tidak percaya
“Kalian tidak mau? Aku baru saja menerima gaji perdanaku hari ini.” Ujar Aira berusaha meyakinkan
Sontak, Dian mengangkat tangannya dan memanggil pelayan. Mereka pun berebutan menyebutkan pesanan mereka. Tampak pelayan itu yang sedikit kewalahan melayani mereka.
Aira memang kerja part time di sebuah toko bunga sejak bulan lalu. Dia bisa mendapatkan pekerjaan itu, berkat bantuan pemilik toko bunga itu, yang tidak lain adalah senior Aira di kampus. Mereka memang lumayan dekat dan sering sharing masalah bunga, kegemaran mereka berdua.

:::

“Aish.. kenapa soal ini susah sekali?” keluh Mimi
Pulpen yang sejak tadi bertengger di tangan Mimi, digaruk-garukkannya ke kepalanya yang tidak gatal.
“Hhh…” Mimi kembali menarik napas berat
Sudah sejam Mimi duduk di depan meja dan menghadapi tumpukan buku-buku dan deretan soal matematika. Tapi, baru satu soal yang berhasil dia kerjakan dengan benar.
“Hei!” sesuatu yang lumayan keras, mendarat tepat di pelipis Mimi
Mimi mengangkat kepalanya, “Auw!”
“Aku kan sudah berulang kali melarang mu mengeluh. Apalagi menarik napas seperti itu.” Katanya penuh ketegasan
“Oppa, appayo…” Mimi mengelus-elus pelipisnya yang terasa nyeri
“Apa yang membuatmu mengeluh seperti itu?” tanyanya
“Aku sudah duduk disini selama sejam, tapi aku baru bisa menyelesaikan satu soal, oppa. Soalnya susah sekali.” Adu Mimi
“Kau pikir, hanya dengan duduk, semua soal ini akan selesai?” ejeknya
“Seulong oppa!” jerit Mimi tidak terima
Mimi memonyongkan bibirnya, pura-pura marah.
“Arasseo…” Seulong mengelus rambut Mimi lembut
Seulong mengambil buku di depan Mimi dan membacanya sekilas.
“Ini tidak terlalu susah. Coba, kau perhatikan soal ini baik-baik. Soal ini hampir mirip dengan soal pertama yang sudah kau kerjakan. Hanya saja, soalnya dibolak-balik.” Ujar Seulong
“Jinja?” Mimi menarik buku itu
“Benar juga.”
Mimi mulai mengerjakan soal itu. Lima menit kemudian, Mimi sudah berhasil menyelesaikannya.
Mimi mengangkat kepalanya sambil tersenyum penuh kemenangan, “Gomawo.”
“Untuk apa?” Tanya Dian yang sekarang berjongkok di depan Mimi sambil memperhatikannya dengan seksama
“Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Mimi kaget
Mimi celingukan mencari seseorang
“Kau mencari apa?” tanya Dian heran
“Mm, aniyo.” Mimi menggeleng seraya tersenyum kecil
“Oh, iya. Kenapa kau ke kamarku?” tanya Mimi yang baru ingat
“Aku Cuma mau bilang, makan malam sudah siap.” Jawab Dian
“Oh. Arasseo. Sebentar lagi, aku keluar. Aku bereskan buku-buku ku dulu.”
Dian mengangguk dan melangkah keluar dari kamar Mimi.
Mimi menengok ke meja rias di sebelah kanannya. Sebuah photo berbingkai kayu, terpajang rapih di sana. Seorang pria yang hampir jatuh karena tiba-tiba seorang wanita semampai melompat dan naik ke punggung pria itu. Mereka tersenyum penuh kebahagiaan.
“Dulu, dia pasti ada di sampingku dan membantuku mengerjakan soal-soal ini.” Gumam Mimi, “Oppa, kau dimana?”

Author :

ೡSpecialAngelೂ

NEVER TAKE OUT THIS!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s