|| 3rd FF | Everlasting Love | Part 2 ||

Annyeong…..

Mianhe… Ak hiatus beberapa bulan buat ff… abis sibuk banget sih… Mian yah…
Akhirnya aku bisa ngerjain n selesaiin ff ini..
Nih juga request dari Aira onn.. Mian onn, kuknya ak ga bisa buat part onnie terlalu panjang.. Imajinasiku belum kembali… ^^
Enjoy this all..

Cast:
> Mimi
> Jeanne
> Fefe
> Dian
> Aira
> Sonrye a.k.a Herentia
> Hamun a.k.a Esther
> Hyori a.k.a Echa

Start….

Mimi, Dian, dan Aira duduk tenang di bus. Seperti biasa, mereka menaiki bus seongbuk 21, yang langsung mengantarkan penumpangnya tepat di gerbang kampus Anam.
Korea University memang dibagi dua kampus, kampus Anam dan kampus Seochang. Karena jurusan mereka yang berbeda-beda, mereka pun terpisah kampus. Mimi, Dian, dan Aira di kampus Anam, sementara Jeanne, Fefe dan Sonrye di kampus Seochang.
“Bye…”
Mimi melambaikan tangannya pada Dian dan Aira begitu mereka turun di gerbang. Mimi berjalan sendiri sambil menenteng buku-bukunya ke fakultas Information & communication. Aira dan Dian juga berjalan ke fakultas art & design.
“Annyeong.” Sapa seseorang dari belakang Aira dan Dian
Aira dan Dian menengok, “Annyeong sunbae.”
“Mm… Dian-ssi, aku bisa bicara sebentar dengan Aira?” tanyanya canggung
Dian melirik Aira.
“Arasseo. Kita ketemu di kelas yah, Ra.”
Dian berjalan meninggalkan mereka berdua.
“Waeyo Yesung sunbae?” Tanya Aira
Yesung menatap Aira tajam. Aira yang di tatap seperti itu, tentu saja jadi salah tingkah. Aira memegang wajah dan rambutnya, takut ada sesuatu yang menempel
“Kau belum mentraktirku.” Ujarnya tiba-tiba


“Ne?”
Kali ini, gantian Aira yang menatap Yesung, dengan tatapan heran tentunya.
“Kau kan baru saja gajian, kenapa kau belum mentraktirku?” tagih Yesung sambil nyengir kuda
“Sunbae, aku kan dapat gaji dari sunbae. Untuk apa aku mentraktir boss-ku?” Protes Aira
“Aku tidak mau tahu. Kau harus mentraktirku hari ini. Kalau tidak…”
Yesung memicingkan matanya, mulai mengancam Aira.
“Arasseo-arasseo. Aku akan mentraktir sunbae malam ini.”
“Yakseoke?”
Yesung mengangkat jari kelingkingnya. Aira melingkarkan kelingkingnya di kelingking Yesung.
“Nde, yakseok.”
Yesung pun tersenyum lebar seraya berlalu meninggalkan Aira yang masih heran karena Yesung yang berjalan sambil melompat-lompat aneh.

:::

“Kenapa kau tidak di jemput Yunho hari ini?” Tanya Fefe
Fefe dan Jeanne duduk sambil membuka buku di taman kampus. Mereka baru saja tiba di kampus. Tapi karena fefe kepagian dan dosen Jeanne yang berhalangan hadir, alhasil mereka ada di taman ini sekarang.
“Dia juga ada kelas pagi. Jadi, dia langsung ke kampusnya dan nggak sempat jemput aku tadi pagi. Tapi, rencananya, pulang kuliah dia mau menjemputku pulang.”
Mata Jeanne tidak beralih dari bukunya.
“Kenapa Sonrye lama sekali sih?” keluh Fefe yang sudah sejak tadi menunggu Sonrye
“Palingan dia masih di jalan. Kau sendiri tahu, anak itu kan lelet sekali.” Komentar Jeanne
“Hh…” Fefe menghela napas panjang, “Aku bingung, kenapa tunangannya itu bisa tahan dengan dia. Sonrye selalu saja membuat orang menunggu.”
“Yaa!” Kali ini Jeanne melepaskan perhatiannya dari buku dan menatap Fefe tajam, “Kenapa kau malah mengomentari tunangan Sonrye?”
Fefe yang kaget karena diteriaki seperti itu oleh Jeanne, hanya diam dan mengerjapkan matanya beberapa kali
“Sepertinya, kau memang harus pacaran.” Lanjut Jeanne
“Apa maksudnya itu?” Fefe memelototi Jeanne
“Dari dulu, bahkan sejak kita masih di Indonesia, aku belum pernah melihatmu menyukai seorang pria. Kalau kau sudah jatuh cinta, kau akan tahu apa yang namanya menerima segala kekurangan dan kelebihan orang itu.” Ujar Jeanne panjang lebar
“Kenapa sekarang jadi aku yang kena?”
“Aku tidak bermaksud buruk, Fe. Aku hanya ingin melihat kau bahagia dengan pria yang kau cintai.”
“Terserahlah.”
Fefe bangkit dari duduknya. Dia menarik tasnya, dan berlalu meninggalkan Jeanne
“Fe! Suatu saat nanti, kau pasti mengerti dengan ucapanku barusan!” teriak Jeanne
Tapi, Fefe tidak memperdulikannya.

:::

“Mianheyo oppa. Tadi sepatuku rusak, makanya aku cari sepatu dulu. Jadinya aku lama. Oppa ga telat kan kalau harus mengantarku dulu?” Tanya Sornye lembut
Jinwon tersenyum manis sambil terus menyetir.
“Gwencana. Aku sudah terbiasa dengan keleletan dan kecerobohanmu.” Ujar Jinwon
“Oppa…” sahut Sonrye kesal
“Aniyo, aku Cuma bercanda. Aku tidak akan telat kok.” Jawab Jinwon akhirnya
“Yonsei kan jauh dari Seochang.” Kata Sonrye cemas
“Kenapa kau khawatir sekali?” Jinwon menengok dan melirik Sonrye
“Aku tidak mau oppa telat masuk kelas, dan nanti appamu malah protes padaku.” Jawab Sonrye
“Aigoo, appaku kan sayang sekali sama kamu. Aku yakin, dia tidak akan pernah marah sama orang yang manis sepertimu.”
“Oppa, ini bukan saatnya menggombal.” Tegas Sonrye
“Sudahlah. Sebenarnya, hari ini aku tidak ada kelas. Setelah mengantarmu, aku langsung ke kantor. Appa menyuruhku datang.” Jawab Jinwon jujur
“Syukurlah.” Sonrye menghela napas lega, “Oppa mau bertemu dengan appa yah? Aku titip sesuatu boleh?”
“Kau mau ngasih apa lagi sama appa?”
Sonrye mengeluarkan sebuah bingkisan kecil dari tasnya.
“Sebenarnya aku mau memberikannya langsung, tapi aku takut aku tidak sempat karena kesibukan appa.”
Sonrye menyerahkan bingkisan itu pada Jinwon
“Apa ini?”
“Jam tangan. Itu hadiah ulang tahun untuk appa. Kemarin aku tidak sempat membelikannya kado.”
“Untukku mana?” tagih Jinwon
“Oppa, kau tidak usah banyak tanya, nyetir saja yang benar.” Jawab Sonrye sembari tersenyum jahil
Jinwon memonyongkan bibirnya pura-pura marah sambil terus menyetir.
Klik..
Jinwon berbalik dan melihat Sonrye yang tertawa setengah mati
“Oppa, bibirmu lucu sekali.” Ujar Sonrye di tengah-tengah tawanya
“Untuk apa kau mengambil photoku? Aku pasti sangat jelek yah. Sonrye, hapus.” Pinta Jinwon
“Siero. Kau lucu di sini oppa.” Jawab Sonrye yang masih tertawa
“Aku kira kau ini manis, ternyata kau jahil juga.”
Jinwon hanya menggeleng tapi ikut tersenyum.
“Sudah sampai.” Ujar Jinwon begitu memarkirkan mobilnya di depan fakultas bisnis dan ekonomi, Seochang
Sonrye memasukkan kameranya ke dalam tas seraya melingkarkan tasnya di bahunya.
“Hati-hati, oppa.” Ucap Sonrye
Sonrye mengecup pipi Jinwon
“Cepatlah masuk, kau bisa telat.”
“Annyeong..”
Sonrye menutup pintu mobil dan melambaikan tangannya. Mobil Jinwon melaju kencang keluar dari Seochang.
Sonrye dan Jinwon baru saja bertunangan dua bulan lalu, tapi mereka sudah pacaran selama setahun. Jinwon adalah putra tunggal dari pemimpin Samsung Group. Dan Sonrye adalah anak kedua dari keluarga Park, pemilik Hana Finance Group. Mereka kenal karena acara pameran yang di adakan perusahaan milik appa Jinwon dan keluarga Sonrye yang juga menghadiri pameran itu. Sejak itu, Jinwon dan Sonrye terus berhubungan sampai mereka bertunangan sekarang.

:::

“Kenapa aku tiba-tiba rindu orang tuaku yah?” batin Dian yang masih duduk sendiri di depan kelas
Dian mengeluarkan ponselnya.
“Halo.” Ujar seseorang di sebelah
“Mama…” sahut Dian riang
“Oh, Dian. Mama baru saja ingin menelponmu.”
“Ada apa, Ma? Penting yah?”
“Mm…”
Dian mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya mamanya ragu mengatakan sesuatu. Ini pasti masalah yang lumayan berat
“Dian, semalam Papa minta tolong ke Mama suruh bilang ini ke kamu.”
“Masalah apa Ma?”
“Anak rekan kerja Papa ada yang mau datang ke Korea. Kamu bisa jemput dia di bandara terus nemenin dia selama dia ada di Korea kan?” pinta Mama
“Oh, bisa kok Ma. Itu mah gampang. Kenapa Mama kayaknya berat gitu mintanya ke Dian?”
“Mm.. Itu.. Sebenarnya, Papa ngejodohin kamu ama anak itu.”
“Apa? Mama lagi becanda kan? Gak serius kan? Zaman apa ini Ma, kok pake jodoh-jodohan segala?”
“Mama gak bercanda, Yan. Mama serius. Sejak kamu kecil, kamu udah dijodohin ama anak temen deket papa ini. Maafin mama yah, soalnya mama baru bilang ke kamu sekarang. Mama pikir, kamu sudah bisa berpikir dewasa dan bisa mengerti maksud papa dan mama.”
“Ma, kenapa tiba-tiba gini sih?”
“Suatu saat, kamu pasti ngerti kenapa Papa dan Mama melakukan ini.”
“Tapi..”
“Ya sudah. Nanti mama sms-in kapan dia ke Korea sama namanya. Ya udah deh, Yan. Mama masih ada urusan. Bye…”
“Ma.. Mama..” teriak Dian
Tapi tidak ada jawaban dari mamanya.
“Aish!! Kenapa hal ini harus secara tiba-tiba muncul sih? Tugas kuliah numpuk, masalah nih dosen sarap yang ngasih nilai error, ditambah masalah perjodohan ini. Aarrrgghh!! Bisa gila aku!” teriak Dian di depan kelas
“Hei? Waegeude?” Aira duduk di sebelah Dian
“Ah, molla.”
Dian tidak menggubris Aira.
Tiba-tiba dosen mereka datang dan masuk ke kelas. Aira dan Dian menyusul ke dalam.

:::

“Ya! Mana ada syntax seperti ini?”
Mimi memonyongkan bibirnya di depan monitor. Pria itu menunjuk listing program di layar dengan ujung pulpennya.
“Sebenarnya kau ini belajar tidak sih?” tanyanya
Perlahan Mimi menoleh dan menatap pria itu. Melihat wajah memelas Mimi, akhirnya pria itu pindah.
“Aissh..”
“Huh.. orang ini benar-benar banyak komentar. Memangnya membuat software itu mudah? Mwo? Tidak belajar? Sejak dua hari aku tidak bisa tidur nyenyak karena tugas gilamu ini, dan kau bilang aku tidak belajar?” rutuk Mimi dalam hatinya
Mimi lalu memperbaiki listing programnya yang salah.
Setengah jam kemudian, kelas itu berakhir. Mahasiswa berhamburan keluar kelas.
“Ah.. akhirnya aku bisa keluar dari neraka.” Gumam Mimi lega
Mimi merapihkan barang-barangnya dan memasukkan net book-nya ke dalam tas.
Ppakk..
Sebuah benda mendarat keras di kepalanya. Sambil merintih Mimi berbalik.
“Hya!” teriak Mimi kesal
Pria yang kini tepat di depan Mimi melotot tajam pada Mimi.
“Eh, Taecyon oppa.” Mimi tersenyum kecut
“Wae uso?” tanyanya lagi
“Oppa, kenapa kau jadi galak begini?” ujar Mimi lembut seraya menggandeng tangan Taecyon
“Kau ini yah. Kenapa kau makin malas seperti ini? Apa karena Seulong sudah…” kata-kata Taecyon terputus
Wajah Mimi mendadak pucat.
“Ani. Pokoknya mulai besok, kau harus private bersamaku.” Lanjut Taecyeon mengalihkan pembicaraan
“Nde?” Tanya Mimi kaget
“Mulai besok kau harus datang ke rumahku setiap hari sebelum ke kampus. Biar nanti kita berangkat ke kampus bareng. Aku harus melaksanakan tanggung jawabku padamu.”
“Eh? Sejak kapan oppa? Memangnya siapa yang berhak memberi perintah seperti itu?” Mimi memicingkan matanya
“Kamu kan sudah dititipi Im.. Ah, sudahlah. Pokoknya kau harus datang. Aracci?” tegas Taecyeon
“Arayo oppa. Tapi siapkan kue yang enak yah. Bilang pada dongsaengmu untuk membuatkanku kue.” Pinta Mimi
“Yah, semoga saja dia sempat. Belakangan ini dia sibuk dengan teman-teman pria nya.” Jawab Taecyeon yang raut wajahnya tiba-tiba berubah
“Ahahahha… Yang sabar yah oppa. Hamun kan juga harus punya pacar.” Mimi mengelus punggung Taecyeon
“Hahh…” Taecyeon menghela napas, “Seperti harus begitu.”
Mimi hanya tersenyum.
“Ya sudahlah. Yang penting besok kau harus datang. Okay!”
“Okay!” Mimi menyatukan ibu jari dan telunjuknya hingga membentuh huruf ‘O’
Taecyeon pun berlalu dan meninggalkan Mimi.
Taecyeon dan Seulong adalah sahabat kental. Mereka selalu bersama. Makanya Mimi juga dekat dengannya. Dia tahu semua yang terjadi pada mereka. Sayangnya, dia juga tidak tahu apa-apa masalah hilangnya Seulong secara tiba-tiba.

:::

Dian masih terduduk diam di bangkunya. Aira justru sudah merapihkan barang-barangnya.
“Hya!”
Aira yang menyadari keanehan Dian, menyenggol lengannya.
“Wae?” Tanya Dian tidak bersemangat
“Waegeude? Sejak tadi kuperhatikan, kau tampak aneh. Kau tidak konsen di pelajaran yang sangat kau suka tadi. Ada apa?” Tanya Aira cemas
Dian menggelengkan kepalanya, “Aniyo. Gwencanayo.”
“Jeongmal? Kau tampak pucat yan.”
“Mm.. kau pulang duluan saja yah. Aku mau kesuatu tempat dulu.”
Dian mulai mengepak buku-bukunya
Aira menahan tangan Dian, “Kau benar baik-baik saja kan?”
“Nde. Aku hanya ingin sendiri. Aku pergi dulu yah.”
Dian melepaskan tangan Aira dan berlalu.
“Hmm.. ada yang aneh dengan anak itu.” Aira mulai curiga, “Tidak biasanya dia seperti itu.”


Neo gateun saram tto eopseo juwireul dureobwado geujeo georeohdeongeol eodiseo channi
Neo gatchi joheun saram (saram) neo gatchi joheun saram (saram) neo gatchi joheun ma eum (maeum) neo gatchi joheun seonmul

Bunyi ponsel Aira membuatnya sedikit terkejut.
“Yeobseyo…” sahut Aira
“Aira-ssi, jangan lupa janjimu malam ini. Okay?” ujar seseorang di seberang
“Yesung sunbae? Oh, nde. Aku tidak akan lupa. Kau menelpon hanya ingin bilang itu?” Tanya Aira
“Nde. Keurom, sampai ketemu malam ini.. Yeppogiseyo…”
Telpon terputus
“Apa-apaan sih sunbae satu itu?” Aira menatap ponselnya heran
“Ah, sudahlah. Dari pada aku sendiri begini, lebih baik aku ke fakultas Mimi saja. Dia pasti sudah selesai kuliah.”
Aira pun beranjak dari kursinya dan berjalan ke fakultas Informatics Computer.
“Nde? Dia sudah pulang?” Tanya Aira kaget
“Nde. Tadi begitu keluar dia langsung pergi.” Jawab salah satu teman Mimi
“Mm.. algessimnida. Gomawoyo.”
Aira akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartment, sendiri.

:::

“Memangnya siapa saja di rumahmu oppa?” teriak Jeanne pada pria yang dipeluknya
Yunho melajukan motornya cukup cepat.
“Omma hago appa. Wae? Kau nervous? “ teriaknya dari depan
Jeanne tidak menjawab.
“Memangnya ada wanita yang tidak nervous kalau bertemu orangtua pacarnya? Babo.” Ujar Jeanne dalam hati
“Turun.” Ujar Yunho begitu mereka sampai di sebuah rumah yang lumayan megah
Jeanne memperbaiki rambutnya yang lumayan ‘hancur’ karena angin.
“Kajja.” Yunho menggenggam tangan Jeanne dan menuntunnya masuk ke rumah
“Omma! Uriga watta!” teriak Yunho begitu mereka masuk
“Oh, wasso?” Omma dan appa Yunho menyambut mereka
“Annyeong haseyo omonim, abeonim…” Jeanne menundukkan kepalanya
“Keure. Annyeong.” Jawab appa Yunho
“Anjo.” Omma Yunho mempersilahkan
“Kalian sudah lama pacaran kan?” Tanya appa Yunho
“Nde.” Jawab Jeanne
Jantungnya benar-benar berdetak kencang. Isi perutnya seakan ingin lompat keluar.
“Kenapa kau baru datang sekarang?” lanjut omma-nya
“Nde?”
“Harusnya kau lebih sering ke sini. Kami akan memperlakukanmu seperti putri sendiri.” Jawab omma
“Gomapseumnida omonim.” Senyum Jeanne tersungging lebar
“Jamkamman. Biar ku siapkan makan siangnya.” Omma Yunho bangkit dari duduknya
“Apa ada yang bisa kubantu?” tawar Jeanne yang ikut berdiri
Belum sempat omma Yunho menjawabnya, tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar. Semuanya melihat ke arah pintu. Seorang wanita berlari kencang masuk ke dalam rumah.
“Imoo!!” teriak wanita itu dan langsung memeluk omma Yunho
“Omo.. Hyori-ah. Kapan kau datang dari Paris?” Tanya Omma Yunho
“Baru saja imo. Dan aku langsung ke sini.” Jawab Hyori
“Memangnya kau mau kemana kalau bukan kesini?’ tambah appa Yunho
“Ahjussi!!!” Hyori berlari kecil dan memeluk appa Yunho lagi
“Siapa dia?” bisik Jeanne pada Yunhoo
“Sepupuku.” Jawab Yunho
“Siapa bilang?” Hyori berbalik dan menghadap Yunho
Hyori berjalan sambil menyunggingkan senyumnya dan mendekati Yunho.
“Annyeong haseyo.” Hyori menundukkan kepalanya pada Jeanne
“Annyeong haseyo.” Jawab Jeanne
“Jeoneun Hyori imnida. Yunho oppa wife-eyo.” Ujarnya lalu melingkarkan tangannya di lengan Yunho
“Mwo?” Jeanne membelalakkan matanya
“Aniyo. Hyori ini sepupu Yunho. Dia sudah tinggal bersama kami sejak kecil. Makanya mereka sangat dekat. Kau jangan salah paham, Jeanne-ssi.” Sahut omma Yunho
“Mm, nde omonim.” Jeanne tersenyum pada omma Yunho
Walaupun begitu, hatinya masih belum nyaman saat ini. Apalagi Hyori belum melepas gandengannya dan sedang menatap Yunho sambil tersenyum genit.
“Ih.. oppa kok malah balik menatapnya seperti itu?” batin Jeanne marah
“Omma-ya, na baegeoppa.” Keluh appa Yunho
“Ya sudah, kita makan sekarang saja omma.” Usul Yunho
“Aratta.”
Omma Yunho berjalan ke dapur diikuti Jeanne. Sebelum masuk, Jeanne sempat berbalik dan melihat Yunho yang mengelus rambut Hyori dengan manja.
Keluarga Yunho duduk di meja makan menanti makanan yang akan disajikan. Jeanne mengangkat semangkuk besar ddokbokki ke atas meja. Begitu meletakkan mangkuk itu, tidak sengaja tangan Jeanne menyenggol cangkir yang berisi teh panas dan membuat celana Hyori basah.
“Auw..” rintih Hyori kepanasan
“Jeanne!” teriak Yunho
Jeanne yang baru kali ini diteriaki Yunho seperti itu sampai terdiam.
“Gwencana?” Yunho mengambil serbet dan membantu Hyori mengeringkan celananya, “Panas yah?”
Hyori mengangguk pelan. Yunho meniup tangan Hyori yang juga terkena teh panas itu.
Air mata Jeanne seakan ingin tumpah. Jeanne berusaha keras menahan tangisnya.
“Omonim, abeonim, mianhe. Sepertinya aku harus pulang sekarang.” Ujar Jeanne dengan suara bergetar
“Tapi kita kan belum mulai makan Jeanne-ah. Makanlah dulu.” Bujuk Omma Yunho
Jeanne melirik ke Yunho yang masih sibuk meniup tangan Hyori
Jeanne menggeleng kea rah omma Yunho, “Aniyo omonim. Tiba-tiba aku tidak enak badan. Aku ingin pulang saja.”
“Kalau begitu biar Yunho yang mengantarmu.” Saran Appa Yunho
“Gwencanayo abeonim. Aku bisa pulang sendiri. Keurom.”
Jeanne menyambar tasnya dan berjalan dengan cepat keluar dari rumah. Air matanya tidak tertahan lagi.
“Oppa, aku tidak menyangka kau bisa meneriakiku seperti itu.” Batin Jeanne

:::

“Hhh.. Sonrye itu cepat sekali sih pulangnya. Apa dia tidak bisa pisah dari Jinwon walau sebentar?” omel Fefe pada dirinya sendiri
“Hei!” seseorang menepuk bahu Fefe
Fefe menengok, “Aissh, ada apa lagi sih?”
Pria itu malah nyengir, “Aku mau pinjam catatanmu di kelas tadi.”
“Ah siero. Siapa suruh kau tidak mencatat.” Fefe menyembunyikan catatan yang sejak tadi di pegangnya
“Kau ini pelit sekali. Besok pasti akan kukembalikan.” Pintanya
“Jinki-ah, kalau kau seperti ini terus bagaimana kau bisa sukses?” ceramah Fefe
“Ahh.. mulai lagi.” Gumam Jinki pelan, “Sudahlah. Aku pinjam yah.” Jinki langsung merampas catatan Fefe dan berlari kencang
“Hyaaa!!” Fefe mengejar Jinki, “Kembalikan catatanku!”
“Kau kutraktir makan besok sebagai gantinya!” teriak Jinki masih berlari
“Hya!” Fefe masih mengejarnya

Piiipppp…..


Fefe menutup matanya keras-keras. 10 detik, 25 detik, tidak terasa apa-apa.
“Gwencanayo?” tanya seseorang di sebelah Fefe
Perlahan Fefe membuka matanya. Seorang pria putih berdiri di depan Fefe dan menatapnya cemas.
Jantung Fefe tiba-tiba berdetak lebih cepat. Fefe memegang dadanya.
“Ada apa denganku?” batinnya
“Kau tidak apa-apa kan?” tanyanya lagi, “Mianheyo. Aku membawa mobilku terlalu cepat.”
Fefe masih melongo dan terus menatap pria itu.
“Sepertinya kau masih shock. Sebaiknya kau kuantar ke rumah sakit dulu.”
“Ah, aniyo. Gwencanayo. Aku yang berlari sembarangan di jalan. Jeongmal mianheyo.” Fefe membungkukkan badannya
“Mm, nde. Tapi kau benar-benar tidak kenapa-napa kan?” tampaknya dia masih cemas
Fefe menggeleng sembari tersenyum, “Gwencanayo.”
“Syukurlah.” Pria itu menarik napas lega
Tidak sengaja, dia melihat buku tebal di tangan Fefe.
“Oh, kau sejurusan dengan dongsaengku.” Ujarnya
“Nde?”
“Kau kenal Sonrye? Park Sonrye?” tanyanya
“Tentu saja. Dia teman baikku. Kau oppanya?” tanya Fefe balik
“Nde. Oh iya, kau tau dimana anak itu?”
“Dia sudah pulang sejak tadi. Katanya ingin bertemu Jinwon-ssi.”
“Anak itu.. sudah tau oppanya baru datang, dia malah asyik pacaran.” Gumamnya, “Kalau begitu aku pamit yah.”
“Mmm.” Angguk Fefe
Pria itu berjalan ke mobilnya. Sebelum masuk, dia sempat menengok dan tersenyum pada Fefe.
“Omo… lesung pipitnya!” jerit Fefe di dalam hati
“Namaku Jungsoo, Park Jungsoo.” Ujarnya
Fefe hanya terdiam terpaku.
“Bangapseumnida.”
Jungsoo pun masuk ke dalam mobilnya lalu melajukannya keluar dari kampus.
“Aku hampir saja mati gara-gara anak kurang ajar itu.” Dumel Fefe, “Tapi berkat dia juga aku bisa bertemu pria tampan itu. Omo, kenapa Sonrye tidak pernah cerita kalau dia punya oppa setampan itu?”

:::

Dian menendang kaleng yang tergeletak di jalan.
“Kenapa mama harus tiba-tiba bilang ini ke aku?” batin Dian
Wajahnya benar-benar murung.
“Bagaimana kalau pria itu jauh dari pria yang aku idamin? Bagaimana kalau dia jauh lebih tua dari aku?”
Dian duduk di bangku di bawah sebuah pohon besar.
“Perjodohan itu memang tidak selamanya buruk. Sonrye bahkan mendapatkan pria yang lebih dari cukup karena perjodohan yang dibuat orang tua mereka. Tapi… apa aku bisa mendapat pria seperti Jinwon-ssi?”
“Apa aku bisa menolak permintaan orang tuaku?” Dian mengayunkan kakinya perlahan
“Setelah mereka dengan berat nyetujuin aku kuliah di sini, apa aku bisa menolak permintaan mereka?”
Tiba-tiba ponsel Dian berdering. Dia membaca pesannya.
“Hmm… sepertinya aku harus mempersiapkan diriku untuk besok.” ujarnya

:::

“Yeoboseyo…” sahut Aira di ponselnya, “Aku sudah ada di café. Sunbae dimana?”
“Aku sudah dekat. Tunggu sebentar lagi.” Jawabnya, “Kau pesan saja dulu. Pesankan aku sekalian.”
“Nde, arasseoyo sunbae.”
Telepon terputus. Lima belas menit setelah memesan makanan, akhirnya Yesung datang.
“Mianhe aku terlambat.” Kata Yesung begitu duduk
“Sunbae ini bagaimana sih? Bukannya sunbae yang minta ditraktir makan? Kenapa sekarang justru sunbae yang telat?” protes Aira
“Mianhe. Tadi aku kehilangan sesuatu.” Jawabnya
“Kehilangan apa?”
“Ah, sesuatu yang tidak penting. Sudahlah, tidak usah di bahas.”
“Kalau tidak penting, kenapa harus mencarinya sampai telat begini?” batin Aira heran
“Kau sudah pesan?” Tanya Yesung
Aira mengangguk, “Nde.”
Beberapa menit kemudian, pesanan pun datang.
“Wah, jeongmal gomawo. Kau mau mentraktirku seperti ini.” Yesung melahap makanannya
“Kalau bukan sunbae yang minta, aku tidak akan mentraktir boss ku sendiri.” Gumam Aira pelan
“Mworago?” Tanya Yesung
Aira menggeleng, “Aniyo. Bagaimana makanannya?”
“Mashita. Kau juga makan.”
Aira hanya tersenyum dan ikut makan. Sementara Yesung dengan lahap menghantam makanan itu.
“Kau betah kerja di toko bunga itu?” Tanya Yesung setelah mereka diam beberapa saat
“Nde. Aku memang sangat suka merawat bunga. Dan aku sangat menyukai pekerjaanku sekarang. Gomawoyo sunbae, berkat sunbae aku bisa mendapat gaji sekarang.”
“Aniya. Itu karena kau sangat bekerja keras selama ini. Kau pantas mendapatkannya.” Yesung tersenyum manis
“Gomawoyo.”
“Sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Tapi barang yang ingin kuberi tiba-tiba hilang. Sepertinya aku harus menunggu saat yang tepat lagi.” Batin Yesung penuh penyesalan
“Makasih yah udah traktir aku malam ini.” Ujar Yesung begitu tiba di depan apartement Aira
“Nde, jeonmane sunbae. Lain kali, sunbae yang harus mentraktirku.” Aira tersenyum jahil
“Arasseo. Lain kali aku pasti akan mentraktrimu. Pasti.” Katanya yakin
“Gidarilke sunbae.”
“Tireoka. Kau harus istirahat. Besok kau masih harus kuliah dan bekerja.”
“Arasseoyo. Annyeong.”
“Annyeong…”
Yesung menunggu Aira masuk ke apartmentnya, baru dia meninggalkan tempat itu.
Baru saja Aira membuka pintu, aura yang aneh tiba-tiba menyembur dari dalam. Suara tangis terdengar keras. Aira berjalan lebih cepat dan langsung menuju sumber suara itu. Aira membuka pintu kamar Jeanne dan mendapatkan keempat sahabatnya berkumpul di kamar itu.
“Kalian kenapa?” Tanya Aira khawatir
Mimi dan Fefe tampak pusing dan kewalahan menenangkan Dian dan Jeanne. Mimi dan Fefe menatap lemas ke arah Aira.
“Aku baru meninggalkan rumah ini beberapa jam, kenapa semuanya jadi berantakan seperti ini?” Tanya Aira lagi
“Huwaaah!!” teriak Dian sembari memeluk Fefe
“Sudahlah. Kau harus berpikir positif. Mungkin saja dia tidak seburuk itu.” Ujar Fefe berusaha menenangkan
Aira ikut duduk di sebelah mereka, “Dian kenapa, Fe?” Tanya Aira
“Orang tuanya menjodohkan Dian dengan anak teman kerja papanya. Dian khawatir kalau pria itu tidak sebaik yang dia inginkan.” Jawab Fefe
“Oh..” Aira mengangguk-angguk, “Kalau Jeanne?” Aira menengok ke sebelah kirinya
“Jeanne diteriaki Yunho tadi siang. Dan katanya itu karena Jeanne tidak sengaja menumpahkan teh panas di paha sepupunya Yunho.” Jawab Mimi
“Apa dia sudah tidak mencintaiku?” duga Jeanne
Matanya benar-benar bengkak saat ini
“Hei, kau jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Mungkin dia hanya khawatir pada sepupunya sampai dia keceplosan dan berteriak padamu.” Mimi mengelus punggung Jeanne
“Hooh… kalian berdua ini kenapa sih? Lebih baik kalian cuci muka lalu tidur. Kalian tidak usah berpikiran yang tidak-tidak. Kalian istirahat saja dulu, kalian pasti sudah sangat lelah hari ini.” Usul Aira
“Aira betul. Sebaiknya kalian istirahat. Kajja.” Fefe membantu Dian bangun dan membawanya ke kamarnya
“Met bobo, Jeanne.” Ujar Mimi
Mimi dan Aira pun kembali ke kamarnya.

:::

Dengan lemas, Mimi berjalan ke rumah Taecyeon. Di depan rumahnya, Mimi melihat seorang wanita dan pria yang mengobrol. Mimi mendekati mereka.
“Onnie!” jerit wanita itu begitu melihat Mimi
“Sudah lama kita tidak bertemu yah, Hamun? Kau baik-baik saja?” Tanya Mimi
“Iya. Onnie sudah berapa bulan tidak pernah kemari.” Jawabnya, “Nde, aku baik-baik saja. Onnie neun?”
“Nadou gwencana. Oppamu ada di dalam?”
“Nde. Dia sudah menunggu onnie sejak tadi. Masuklah.” Ujar Hamun sembari tersenyum
“Arasseo. Oh iya, pria itu siapa?” bisik Mimi
Hamun tersenyum malu
“Ya sudah. Onnie masuk duluan yah.”
Mimi sempat senyum pada pria itu sebelum masuk.
“Oppa!” teriak Mimi begitu masuk
“Oh, kau sudah datang?” ujar Taekyon yang berbaring di depan tivi tanpa mengalihkan pandangannya
Mimi langsung mendekati Taecyeon lalu duduk di sofa yang menghadap tivi itu. Taekyeon yang berbaring di karpet masih belum menengok.
“Hhh… oppa ini. Kalau menonton pertandingan bola, pasti yang lainnya dianggap tidak penting.” Keluh Mimi lalu berbaring di sofa itu
Akhirnya pertandingan itu selesai juga. Taekyeon berbalik dan mendapati Mimi yang tertidur di sofa.
“Apa lagi yang dikerjakan anak ini semalam sampai mengantuk seperti ini?” gumam Taekyon
“Loh? Onnie kok tidur? Bukannya mau belajar?” Tanya Hamun yang baru masuk
“Sstt…” Taekyeon menempelkan jari telunjuknya dibibir, “Sepertinya dia kurang tidur semalam. Tidak usah kau bangunkan, biarkan dia istirahat dulu.”
“Oh, arasseo.”
“Pria itu sudah pulang?” Taekyon mengintip keluar jendel
“Nde. Dia baru saja pergi.” Hamun duduk di karpet dan mengganti channel tivi
“Pacar barumu lagi?” Tanya Taekyeon lagi
“Aniyo oppa. Dia itu Cuma teman sekolahku saja.”
“Kalau hanya teman, ngapain bawa-bawa bunga segala?” Taekyeon ikut duduk disebelah Hamun
“Aigoo… Oppa, kau ini cemburu yah?” Hamun mencubit pipi oppanya gemas, “Tenang saja. Aku hanya mencintai oppa seorang.”
“Terserahlah. Eh, kau buatkan Mimi bubur dulu. Aku yakin, dia pasti belum sarapan.”
“Aduh.. oppaku satu ini yah. Aku dengan pria lain, dia marah-marah. Tapi sekarang, dia malah menyuruh dongsaengnya ini untuk membuatkan makanan untuk wanita lain.” Ejek Hamun
Sementara Taekyeon hanya tersenyum.
“Aku tau kau mengerti.” Ujar Taekyeon
“Arasseo oppa. Lagipula aku juga menyukai Mimi onnie. Aku bahkan akan merestui hubungan kalian kalau kalian benar-benar saling menyukai.”
“Huss.. Kau jangan bicara sembarang. Sana, buat bubur saja.”
“Oppa, kau ini lucu. Hehehe…”
Hamun berlari kecil ke dapur sambil terkikik.
“Kau benar-benar sudah mengalami masa-masa sulit selama ini.” Gumam Taekyeon pelan dan mengelus rambutnya dengan lembut
“Aku sudah berjanji padanya akan menjagamu jika dia tidak ada. Dan aku pasti akan menepatinya.”
Taekyon tersenyum menatap Mimi.

Continued…

Nae Kang Bear,,

I’ll miss u so much, nae Kang Bear…
Your chubby body will always in my mind…
Your half-moon smiled will keep in my heart…
We’ll always pray for your best…
Keep your healthy and your smile…
Be strong and be the best..
Oppa, we love you…
Hwaiting!!
-iseul-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s