|| 3rd FF | Everlasting Love | Part 3 ||

Annyeong…..

Huwaaaaaaaaaaaahhh~~~
akhirnya ujianku tlah usai… ujian trakhir bener2 buat ak pengen muntah… 200 soal english bener2 buat palaku puyeng… >,<
tapi, akhirnya bisa selesaiin ini.. hehhee
Enjoy this all..

Cast:
> Mimi
> Jeanne
> Fefe
> Dian
> Aira
> Sonrye a.k.a Herentia
> Hamun a.k.a Esther
> Hyori a.k.a Echa

Start….

Dian mondar-mandir di depan gath arrival di bandara. Sudah lima belas menit, dia berada di sana.
“Apa Mimi juga mondar-mandir seperti ini kalau dia ke sini?” batin Dian, “Dia pasti sangat menderita selama ini.”
Dian mengeluarkan ponselnya dari saku. Dia membaca lag isms dari mama-nya.


Pria itu akn dtang bsk jam 10.a.m. KST. Dia memakai kemeja biru kotak. Dan sebaiknya kau pakai baju biru jg. Kalau kau sudah bertemu dengannya, dia pasti akan menanyakan Papamu. Mama harap, kamu bisa dewasa dan memperlakukannya dgn baik.
Kau akan tahu, knapa mama dan papa mengambil keputusan ini. Semangat!

“Enak saja bilang semangat.” Dumel Dian dalam hati, “Ini masalah masa depanku. Aku bahkan belum pernah pacaran selama ini, dan tiba-tiba aku diminta menikah dengan pria yang belum pernah aku temui sebelumnya.”
Dian menyandarkan tubuhnya ke besi pembatas di belakangnya.
“Aissh.. lama sekali.”
Tidak lama kemudian, orang-orang mulai berhamburan keluar dari gath itu. Dengan seksama, Dian memperhatikan tiap orang yang keluar. Tapi… tapi ada beberapa pria yang mengenakan kemeja biru kotak.
“Yang mana yah?” batin Dian, “Yang pasti bukan dia.” Dian mendelik ngeri ke arah pria yang agak kemayu, “Dan aku pasti akan mengamuk kalau dia adalah pria itu.” Dian memperhatikan seorang kakek yang memakai kemeja biru kotak.
“Hy…” sapa seseorang sembari menepuk bahu Dian
Dian menengok. Dia melihat pria itu dari atas ke bawah. Dia memang memakai kemeja biru kotak. Tapi…
“Cakep! Gak mungkin-gak mungkin. Pasti bukan dia.” Dian menggeleng keras
“Who are you?” Tanya Dian dengan English, karena pria itu memang tampak seperti bule
“Aku bisa bahasa Indonesia.” Ujarnya dengan fasih
Mata Dian membelalak
“Hy. Kau Dian kan?” tanyanya sembari tersenyum
“Omma yah!! Manis sekali!” jerit Dian dalam hati
Dian mengangguk pelan, “Kau tahu dari mana?”
“Sepertinya kau benar-benar sudah lupa denganku. Hmm.. aku sedikit kecewa sih, tapi ya sudahlah. Kita pernah tetanggaan waktu masih TK.
“Ne?” dian mempertajam penglihatannya
“Kau masih belum ingat?” tanyanya tidak percaya
Pria itu lalu menggembungkan pipinya dan mengangkat bahunya seperti orang gemuk.
“Khun?!” jerit Dian tidak percaya
Pria itu tersenyum manis, “Akhirnya kau ingat juga.”
“Kau beda sekali!!” Dian menyentuh badan temannya itu, “Kemana semua lemak itu?”
“Kau ini. Kita tidak bertemu sudah bertahun-tahun. Semuanya bisa saja berubah.” Jawabnya
“Ah, kau benar juga. Oh iya, kamu ngapain ke korea?” tanya Dian masih belum ngeh
“Kau tidak tahu lagi? Kukira Papamu sudah memberitahukan semuanya padamu.”
“Ha? Tunanganku itu kau?” tanya Dian benar-benar kaget
Dia mengangguk.
“Yang benar saja? Kenapa Mama gak bilang kalau itu kau? Aku sampai pusing karena masalah perjodohan ini.”
“Kau mau berdiri sampai kapan?” tanya Khun
“Ah, benar juga. Kau sudah sarapan?” tanya Dian kemudian
“Mm.. belum sih. Kenapa? Kau mau mentraktirku?” goda Khun
“Baiklah, kali ini aku yang traktir. Sekalian merayakan pertemuan kita ini.”
“Let’s go!”
Khun mendorong troli barangnya dengan kencang.
“Anak ini tidak berubah. Aku tetap menyukainya seperti dulu.” Batin Dian sembari tersenyum

:::

“Dia sudah berangkat?” jerit Yunho di depan pintu apartment
“Sudah sejak tadi oppa. Dia bahkan tidak sarapan.” Jawab Fefe sambil menyenderkan badannya ke pintu
“Sepertinya dia benar-benar marah padaku. Dia sampai tidak sarapan agar tidak bertemu denganku pagi ini.” Gumam Yunho
“Memangnya Hyori itu siapa oppa?” tanya Fefe tiba-tiba
“Nde?” Yunho membelalakkan matanya
“Jeanne sampai menangis semalaman. Tadi pagi, matanya masih bengkak. Dia kaget dan kecewa saat oppa meneriakinya. Apalagi cuman karena Jeanne tidak sengaja menumpahkan teh ke paha sepupu oppa. Dan katanya, oppa bahkan tidak memperdulikan Jeanne saat dia pamitan kemarin.” Adu Fefe
“Dia bilang begitu?”
Fefe mengangguk
“Gomawoyo. Aku harus pergi sekarang. Sekali lagi, gomawo Fefe.”
Yunho lalu beranjak meninggalkan apartment itu dengan cepat. Yunho melajukan mobilnya dengan kencang. Ditengah perjalanan, Yunho berhenti di sebuah Bakery Shop.
Yunho berlari kencang melalui koridor-koridor di kampus itu. Dia berlari ke sebuah taman di tengah fakultas itu. Seperti yang sudah dia duga, wanita itu duduk sendirian di bawah pohon. Dia duduk di atas rumput sambil berkutat dengan buku tebalnya. Rambutnya dicepok asal dan menyisakan beberapa helai rambut yang terurai.
Dengan sangat pelan, Yunho yang sudah memegang sebuah karton dan sekotak roti, berjalan mendekati Jeanne. Dari belakang pohon, Yunho menyodorkan kotak roti itu di depan Jeanne. Jeanne yang kaget, langsung menoleh dan mendapati sebuah karton besar yang bertuliskan

M.I.A.N.H.E

Perlahan karton itu dia turunkan, wajah Yunho yang memelas pun muncul dari balik karton itu. Jeanne langsung membuang muka dan kembali membaca bukunya.
“Mau apa oppa kesini?” tanya Jeanne jutek
Yunho merangkak pelan ke depan Jeanne
“Kau pasti sangat marah yah?” tanya Yunho
“Aniyo. Aku tidak marah sama sekali.” Jawab Jeanne tanpa melihat ke wajah Yunho
“Kau jangan seperti itu.” Yunho terus memelas, “Aku tahu kau tidak marah. Tapi kau pasti kecewa karena aku meneriakimu kan?”
“Udah tau nanya.” Gumam Jeanne sewot
“Yah.. Jeanne.. Mianhe.. Kemarin aku tidak sengaja. Aku benar-benar kehilangan control. Hyori itu sepupuku bahkan sudah kuanggap Yo dongsaengku sendiri. Dari kecil kami tinggal bersama. Dan dia sangat manja padaku. Aku tidak pernah membiarkan dia terluka sedikitpun. Makanya waktu dia kena air panas, aku benar-benar panik. Aku bahkan lupa kalau itu kau. Mianhe. Jeongmal mianhe. Aku benar-benar tidak sengaja.” Yunho menjelaskan panjang lebar
Jeanne mengangkat kepalanya, “Oppa benar-benar dekat dengan Hyori itu?”
Yunho mengangguk, “Dan aku juga berharap kalian bisa dekat. Sama seperti hubunganku dengan Hyori.”
Jeanne tersenyum, “Aku harap dia mau dekat denganku. Tapi sepertinya dia tidak suka padaku.”
“Dia memang seperti itu. Dia suka cemburu dengan wanita yang denganku. Sudahlah, kau tidak usah memikirkan anak itu. Kau sudah mau memaafkanku?” tanya Yunho lagi
Jeanne mengangguk, “Tapi, dengan satu syarat. Jangan pernah neriakin aku kayak gitu lagi. Arasseo oppa?”
“Yakseok!” Yunho mengangkat tangannya, bersumpah
Jeanne hanya tersenyum
“Kau belum sarapan kan? Aku tadi beli roti untukmu.” Yunho membuka kotak itu dan menyodorkannya pada Jeanne
“Gomawo oppa.”

:::

“Oppa!!” teriak Mimi kencang, “Kenapa oppa tidak membangunkanku? Aku jadi kesiangan nih.”
“Abisnya kamu keliatan capek banget sih. Jadi gak tega ngebanguninnya. Ya sudahlah, hari ini kamu bolos aja.” Jawab Taecyeon
“Keure onnie, tidak usah ke kampus. Di sini saja temenin Hamun.” Tambah Hamun
“Kau ini, sama saja dengan oppamu. Ya sudah, aku ke WC dulu.”
Mimi pun beranjak dari sofa.
Beberapa menit kemudian, Mimi kembali dari WC, “Hamun-ah, kau tidak ke kampus?”
“Aniyo onnie. Aku libur hari ini.” Jawab Hamun masih asyik menonton tivi
“Keure.”
Hamun menengok dan menatap Mimi yang berdiri di belakangannya, “O iya onnie, aku tadi sudah masak bubur ayam. Tuh, ada di meja. Onnie makan saja dulu.”
“Jeongmal? Gomawo Hamunnie. Kau memang tau kalau aku lagi kelaparan.” Mimi cengengesan sembari berjalan ke meja makan yang tidak jauh dari ruang tivi
“Sebenarnya oppa yang menyuruhku membuatnya. Dia bilang, onnie pasti tidak sempat sarapan tadi pagi. Makanya dia memintaku membuat bubur untuk onnie.” Ujar Hamun dengan suara agak kencang
Bukkk…
Sebuah bantal mendarat dengan mulus di kepala Hamun, “Auwww!” jeritnya
Hamun menoleh dan mendapati oppanya sedang berkacak pinggang di belakang.
“Hehe…” Hamun nyengir kea rah Taecyeon
“Dasar mulut ember.” Kata Taecyeon lalu berjalan ke meja computer di sebelah ruang tivi
Sementara Mimi yang asyik menyantap buburnya hanya cekikikan melihat tingkah laku mereka berdua.
“Hamun-ah!” teriak Mimi dari meja makan
“Ne?” jawab Hamun
“Aku dengar kau mulai pacaran sekarang?” tanya Mimi
“Kata siapa onnie?”
“Tuh, oppamu bilang kalau dia kesal melihat kau dengan pria lain. Dia cemburu tuh!” teriak Mimi
“Ah… kau sama saja seperti Hamun. Tidak bisa jaga rahasia.” Ujar Taecyeon kesal
Hamun berjalan mendekati Taecyeon dan memeluk lehernya dari belakang, “Tenang saja oppa. Oppa tetap nomor satu di hatiku.”
Diam-diam Taecyeon tersenyum menghadap monitor
“Tapi kau tetap harus punya pacar Hamun!” tambah Mimi, “Kalau oppamu nanti punya pacar, kau pasti akan kesepian. Makanya kau juga harus punya pacar.”
“Mimi!!!” teriak Taecyeon
“Hahaahhaa…” Mimi berhenti menyendokkan buburnya dan tertawa terbahak

:::

“Sonrye, kau jadi ke sini?” tanya Fefe di telpon
“Mian Fe,” jawab Sonrye dengan suara lemas, “Aku tiba-tiba tidak enak badan. Sepertinya aku tidak bisa kesana hari ini.”
“Gwencana? Mani appo?” tanya Fefe cemas
“Aniyo. Sepertinya aku kecapekan. Makanya sekarang kepalaku pusing.” Jawab Sonrye
“Kalau begitu, aku ke rumahmu sekarang yah. Sepertinya kau benar-benar tidak sehat.”
“Jeongmal?”
“O. jamkamman.”
Fefe pun berlari ke kamarnya dan berganti baju. Sejam kemudian, Fefe sudah sampai di sebuah kediaman yang lumayan megah. Sonrye memang berasal dari keluarga kaya.
“Setiap aku melihat rumah ini, aku pasti merinding. Rumah sebesar ini tapi hanya ada Sonrye dan pembantu-pembantunya yang menghuni. Pasti dia sangat kesepian.” Batin Fefe
Fefe langsung naik ke kamar Sonrye yang memang sudah dia hapal letaknya. Perlahan Fefe mendorong pintu putih itu. Sepertinya Sonrye sedang tidur. Fefe berjalan mendekati Sonrye.
“Dia benar-benar pucat.” Fefe meletakkan telapak tangannya ke dahi Sonrye, “Omona, dia demam.”
Dengan cepat, Fefe mematikan AC di kamar Sonrye dan menyelimuti seluruh tubuh Sonrye. Dia keluar dari kamar dan berjalan ke dapur yang cukup jauh dari kamar Sonrye.
Fefe sedang sibuk mengaduk teh hangat saat seseorang menyapanya.
“Annyeonghaseyo.”
Fefe menengok dan mendapati sosok yang belakangan ini selalu dia pikirkan. Tiba-tiba dadanya terasa sesak
“Kau sedang apa di sini?” tanyanya lagi
“A.. aku…” ujar Fefe terbata-bata
“Dia membuatkan teh untuk Nona Sonrye, Tuan.” Jawab seorang pembantu Sonrye yang memang sedang memasak di dapur itu
Jungsoo membulatkan bibirnya dan mengangguk, “Kau yang bernama Fefe yah?”
“Kau.. kau tau dari mana?”
“Sonrye sudah cerita banyak tentangmu.” Katanya sembari tersenyum, “O iya, dimana anak itu? Biasanya dia sudah berisik jam segini.”
“Dia sedang tidur. Dia terkena demam.” Jawab Fefe
Tanpa pikir panjang lagi, Jungsoo berlari cepat ke kamar Sonrye. Sementara Fefe membawa secangkir teh dengan perlahan. Begitu Fefe masuk ke kamar, dia sudah mendapati Jungsoo yang duduk di sebelah Sonrye dan menatapnya khawatir.
“Kau tidak tahu kalau dia demam?” tanya Fefe seraya meletakkan cangkir itu di meja
“Ne. Pagi tadi, aku langsung ke kantor tanpa mengecek keadaan Sonrye.” Jawabnya
Hening. Tiba-tiba suasana terasa diam. Tidak ada suara yang terdengar.
“Kenapa aku baru melihatmu?” tanya Fefe kemudian
“Selama ini aku ikut dengan appaku ke Paris. Dan baru ada kesempatan kembali mengurusi perusahan di sini.” Jawabnya
“Pantas saja. Tiap kali aku ke sini, aku tidak melihat orang lain selain pembantu-pembantu di sini.”
“Sonrye pasti kesepian selama ini. Tapi aku tahu, sejak dia bertemu denganmu dan Jinwoon hidupnya makin berwarna.” Ujar Jungsoo
Tiba-tiba ponsel Fefe berdering. Fefe merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya.
“Yeoboseyo.” Jawab Fefe
“Fe, Sonrye kenapa?” tanya Jinwoon cemas
“Dia demam. Tapi sepertinya sudah mulai turun. Kau dimana?” tanya Fefe lagi
“Aku sudah dekat. Sebentar lagi aku sampai di sana. Tapi dia baik-baik saja kan?”
“O… lagipula, ada aku dan oppanya yang merawat. Kau tenang saja.”
“Oppa? Jungsoo hyung ada di sana?”
“Ne. Palli wa.”
“Arasseo.”
Fefe memasukkan ponselnya lagi.
“Jinwoon-ssi?” tebak Jungsoo
“Ne.” Fefe mengangguk
“Sepertinya dia sangat perhatian dengan dongsaengku ini.” Ujar Jungsoo
“Tentu saja. Aku sampai heran melihat Jinwoon yang sangat baik dan mengerti pada Sonrye yang lelet dan ceroboh ini.” Tambah Fefe
Jungsoo melirik tajam kea rah Fefe, “Aku yakin, kau pasti belum pernah pacaran ataupun jatuh cinta”
Fefe bagai tertembak. Dia tidak bisa membalas kata-kata Jungsoo itu. Soalnya semuanya benar.
“Lagipula, kata-katanya juga mirip seperti Jeanne. Kalau aku membalasnya, aku bisa bertengkar dengannya. Aku kan baru kenal, aku tidak mungkin bertengkar hanya gara-gara hal yang memang kenyataan.” Batin Fefe pasrah

:::

Aira mendorong trolinya perlahan sembari matanya sibuk melihat kesana kemari.
“Hari ini kan, giliran Dian yang belanja.” Dumel Aira, “Kenapa tunangannya itu ga datang besok aja sih.”
Tiba-tiba ponsel Aira di dalam tas berdering.
“Ini kan nomer Indonesia. Siapa yah?” batin Aira, “Halo.”
“Aira, ini Mamah-nya Dian.” Jawab seseorang di seberang
“Oh iya tante. Kok nelpon Aira? Kenapa?” tanya Aira balik
“Tadi tante nelpon Dian, tapi ponselnya ga aktif. Kamu lagi sama dia gak?”
“Enggak tuh tan. Dia kan lagi ke bandara, ngejemput tunangannya itu.”
“Dia pergi ngejemput yah?” terdengar suara Mama Dian yang berusaha menahan tawa
“Emang tunanganya itu siapa sih tan? Dian sampe nangis loh. Dia takut banget kalo-kalo tunangannya itu cowok aneh.” Adu Aira
“Tenang aja. Dia gak mungkin nyesel tunangan ma cowok pilihan tante.” Ujarnya yakin
“Tante kok yakin banget? Emang siapa?”
“Kamu inget gak cowok yang selalu di certain Dian, kalo dia itu first love-nya?”
“Mm.. Siapa yah? Bentar deh tan.” Aira tampak berpikir keras, “NICK KHUN?!” jerit Aira dengan suara lumayan kencang
Aira melihat ke sekelilingnya. Orang-orang menatap Aira heran. Aira menundukkan kepalanya dan minta maaf, “Jeosuhamnida.. jeosuhamnida..”
“Hahaha.. Kamu masih ingat yah. Iya, Khun yang udah jadi tunangan Dian sekarang.” Mamah Dian cekikikan
“Pantesan, dia gak nelpon-nelpon abis dia ke bandara. Pasti udah seneng banget tuh tan.”
“Pasti. Ya udah deh, kalo nanti kamu ketemu Dian, bilang tante minta dia buat nelpon ke Indo. Oke?”
“Oke deh tante. Beres pokoknya.”
“Baik-baik yah di negri orang. Hehe…”
“Thanks tan. Bye…”
Aira kembali mendorong trolinya.
“Bener-bener deh tuh anak. Pas seneng, lupa deh ma temen.” Batin Aira sembari senyam-senyum
“Aira?” seseorang menepuk bahu Aira
Aira menoleh, “Ka.. Kamu…” ujar Aira terbata-bata
Aira menutup mulutnya dengan kedua tangannya, tidak percaya.
“Kamu beneran Aira!”sahut pria itu
Aira menutup mata lalu menggelengkan kepalanya, “Aku pasti sedang mengkhayal. Dia tidak ada di depanku.” Batin Aira
“Aira?” panggilnya
Aira membuka matanya. Pria itu masih berdiri di depan Aira dan menatapnya tajam. Aira melangkahkan kakinya mundur. Dia kembali menggelengkan kepalanya, berbalik, dan berlari keluar dari mini market itu.
Setelah berlari cukup jauh, Aira berhenti dan duduk di halte bus.
“Apa yang baru saja kulihat? Aku pasti hanya mengkhayal. Dia tidak mungkin ada di Korea.” Batin Aira
Aira menutup seluruh wajahnya dengan kedua tangan. Aira kembali menggeleng.
“Tidak mungkin. Aku tidak mau bertemu lagi dengannya. Aku tidak mau.”
Mata Aira mulai berair.
“Aku harus pulang sekarang. Aku harus menenangkan pikiranku dulu.”
Aira pun naik ke bus, dan kembali ke apartment-nya

:::

Mimi duduk di depan computer dengan syntax-syntax program yang berjejeran di monitor.
“Sekarang kamu cari syntax yang salah dari keseluruhan syntax ini.” Kata Taecyeon dari belakang Mimi
“Ne? Program ini masih error? Syntax sepanjang ini harus aku teliti dan kucari salahnya, oppa? Kau bercanda kan?” ujar Mimi kaget
“Tidak usah banyak protes. Cari saja letak kesalahannya.” Perintah Taecyeon
“Arasseo.”
Mimi pun kembali berkutat dengan syntax-syntax itu. Mimi mulai memperhatikan syntax itu dari awal. Beberapa dia edit, kemudian dia run. Tapi hasilnya masih error. Dia lalu mencari lagi syntax yang salah. Sementara itu, Taecyeon yang sudah mengambil kursi, duduk di sebelah Mimi dan memperhatikannya sambil melahap pudding coklat.
“Oppa, bagi puddingnya dikit.” Pinta Mimi
“Selesaikan dulu tugasmu itu.” Jawab Taecyeon tegas
“Pelit.” Komentar Mimi lalu memalingkan mukanya, lengkap dengan bibir manyunnya
“Arasseo. Ini.”
Taecyeon menyendokkan pudding itu dan memasukkannya ke mulut Mimi
“Gomawo oppa.”
Tiba-tiba ponsel di meja computer berdering. Mimi sempat melihat kata ‘blue hospital’ di layarnya. Taecyeon langsung menyambarnya dan menjauh dari Mimi.
Beberapa menit kemudian, Taecyeon kembali.
“Mi, sepertinya aku harus pergi sekarang.” Ujar Taecyeon
“Jigeum? Odiga?” tanya Mimi
“Aku ada keperluan mendadak. Mian yah. Kau pulang sendiri saja. Aku tidak bisa mengantarmu. Mianhe.”
Taecyeon pun berjalan keluar dari rumah.
“Oppa!” teriak Mimi
Tapi tidak di tanggapi oleh Taecyeon
“Aneh. Biasanya aku tidak pernah mau tahu urusan orang lain. Tapi kenapa kali ini batinku sangat penasaran dan ingin mengikuti oppa.” Batin Mimi
Dia pun memutuskan untuk ke Blue Hospital hari itu.

Continued….

Ps:
.>Yunhe-ah…. gak usah minta tiket ke Korea lagi yak… ak dah post nih ELL…
LD ma Shopha ak usahain.. tapi ga janji dalam waktu deket ini… hehehhe…
.>Yoora onn, next scene, part nya onnie pasti banyak… hahahha… XPP
.>Buat yg partnya dikit, mian yah… next scene deh… oce… ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s