|| 3rd FF | Everlasting Love | Special Scene of Mimi & Seulong ||

Annyeong!!! ^^
Pleased to see you again my reader.. Dari ff baruku, Everlasting Love, sepertinya masih banyak reader yang masih bingung sama jalan ceritanya. Terutama partnya Mimi and Seulong. So, author siapin special part ini buat reader. Smoga abis baca part ini, semuanya bisa ngerti jalan ceritanya..
Oce, let’s start this scene..


Action~~!!

Belum terlalu lama aku pindah ke Seoul, tapi aku sudah menemukan seorang pria yang kini mengisi penuh hati dan otakku. Belakangan ini, pria itu terus saja berputar di benakku. Rasanya ada yang aneh kalau aku tidak melihatnya sehari saja.
Im Seulong, sunbaeku di kampus ini yang ‘mengganggu’ hidupku. Pria yang sudah menarik hatiku sejak pertama aku melihatnya saat dia maju ke panggung untuk memberikan kata sambutan untuk para mahasiswa baru, termasuk aku. Kata-katanya yang ringan tapi sangat masuk akal. Bahkan tatapannya yang memberi kesan tegas dan bijaksana. Rasanya aku tidak sanggup bergerak tiap menatap mata itu.
Tidak ada yang menyangka, setelah dekat dengannya dua bulan, dia tiba-tiba menyatakan cinta padaku. Dia bilang, dia sudah menyukaiku sejak pertama dia melihatku di acara penyambutan mahasiswa baru. OMG! Apa ini yang di sebut jodoh?
Aku tidak salah memilihnya, dia pria yang sangat bertanggung jawab dan perhatian. Dia tahu bagaimana cara memperlakukan seorang wanita. Dan dia tahu membedakan sikapnya dengan teman wanitanya dan pacarnya.
Yup! Dialah pacarku. Dan aku bangga menjadi kekasihnya. ^^
TTAAKK!!
Pulpen itu mendarat dengan mulus di jidatku yang kinclong.
“Oppa…” aku memelas sembari mengelus jidatku berusaha menghilangkan sakitnya
“Siapa suruh kau melamun.” Balas pria di depanku itu
“Aku tidak melamun. Aku sedang mengerjakan soal-soal ini.” Sangkalku
“Mana ada orang yang mengerjakan soal matematika sambil senyum-senyum. Memangnya angka-angka itu sedang melawak?” Bantah Seulong
“Arasseo. Aku memang melamun. Tapi, oppa tidak perlu memukul kepalaku kan? Nyut-nyutan nih. Kalau aku tambah bodoh, otte?” Protesku ditambah memajukan bibirku beberapa senti
Seulong tiba-tiba memegang jidatku dan mengelusnya lembut. Aku mengangkat kepalaku dan menatap Seulong. Dia mendekatkan wajahnya. Aku piker dia mau ngapain, ternyata di meniup jidatku pelan.
Seulong tersenyum sangat manis padaku, “Sudah tidak sakit kan?”
Aku yang masih cengo, mengangguk pelan.
“Kalau sudah tidak sakit, lanjutkan kerjakan soal-soal itu. Bukannya besok, sudah harus kau kumpulkan? Kalau Professor Kim Neulah membuat nilaimu error, bagaimana?” Seulong mengingatkan
Mendengar kata-kata itu, aku sadar dari lamunanku. Membayangkan wajah killer dosen itu, memaksaku mengerjakan soal-soal yang sudah membuatku mual sejak tadi. Untung saja Seulong setia membantuku mengerjakan soal-soal ini.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka.
“Kalian masih belajar?” Dian menggeleng
Aku hanya nyengir malu.
“Aku Cuma mau bilang, Aira sudah selesai membuat makan malam. Kalian makan saja dulu. Belajarnya nanti saja.” Lanjut Dian
Aku baru saja berjongkok hendak berdiri dan berlari ke meja makan.
“Gomawo, Dian-ssi.” Potong Seulong, “Tapi kami ingin menyelesaikan soal-soal ini dulu. Tinggal dikit lagi kok. Iya kan, Mi?” Seulong menoleh dan menatapku
“Ha? Nde.” Aku hanya bisa mengangguk dan memelas
“Lagipula, kalau sudah selesai, kami berencana makan diluar.” Tambah Seulong
“Jinja?” tanyaku
Seulong mengangguk sembari tersenyum padaku.
“Terserah kalian lah, kami makan duluan yah. Seulong oppa, kau harus sabar yah menghadapi temanku yang satu itu.” Ujar Dian
Sebelum bantal yang kulemparkan mengenai Dian, dia sudah menutup pintu. Aku bisa mendengar suaranya tertawa dari luar.
“Ayo lanjutkan.”
Aku pun kembali berkutat dengan soal-soal matematika ini.
Mimi’s bedroom
:::

Aku menggandeng Seulong dan masuk ke restoran langganan kami.
“Biasa.” Ucapku pada pelayan yang sudah mengenal kami
Dia hanya tersenyum dan kembali ke dapur. Tidak beberapa lama, dua piring ramyon terhidang di meja.
Seulong membantuku mengaduk mi dan bumbunya. Setelah ramyonku tercampur, baru dia mencampur ramyonnya sendiri.
“Oppa.” Ujarku sambil mengangkat sumpit yang menjempit ramyon dan menyodorkannya ke mulut Seulong, “Aa..”
Ramyon itu masuk dengan mulus ke mulutnya. Kali ini, Seulong yang menyuapkan ramyon ke mulutku.
“Oppa, apa aku ini bodoh?” tanyaku dengan mulut penuh ramyon
Seulong membersihkan tepi bibirku yang belepotan dengan tangannya.
“Tidak ada orang bodoh di dunia ini.” Jawab Seulong
“Lalu, aku ini apa?”
Dia tersenyum.
“Kenapa oppa senyum begitu? Aneh.”
“Pertanyaanmu lucu. Kau ini apa? Aku harus bagaimana menjawab pertanyaan itu? Mm, kau ini pacarku.” Jawab Seulong
Bisa kurasakan wajahku yang terasa hangat.
“Sudahlah. Kau tidak usah terlalu memikirkan perkataan orang lain. Aku yakin, kau pasti bisa kalau kau berusaha keras.” Tambah Seulong
“Gomawo oppa.”
Aku pun melanjutkan makanku yang sempat terhambat saking tersipunya.

:::

Aku dan Seulong duduk di sebuah bangku yang menghadap pantai. Suara ombak yang khas dan angin malam ikut menghiasi malam itu. Tempat ini yang menjadi saksi bisu dan yang mendengar pernyataan cinta Seulong oppa yang membuatku meneteskan air mata. Saat indah itu terjadi dua tahun lalu.
Aku memandang jauh ke lautan. Rasanya ingin menghentikan waktu. Aku tidak ingin mala mini berlalu. Seulong tiba-tiba menyenderkan kepalanya ke bahu kananku. Aku menoleh dan menatap wajah Seulong dari atas. Ternyata pria yang dewasa dan tegas sepertinya, bisa juga bersikap manja.
Baru saja aku ingin menegurnya, dia tiba-tiba angkat suara.
“Biarkan aku bersandar di bahumu.” Ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laut
Aku menatapnya seraya tersenyum. Aku mengelus wajahnya yang mulus dengan tangan kananku dan ikut memandang laut.
“Apa kita tidak bisa selama seperti ini?” ucapnya
Aku hanya tersenyum
“Mimi, kau tidak menyesal jadian denganku?” tanyanya
Aku menggeleng mantap, “Aniyo. Na haengboke.”
“Jinja?” aku mengangguk lagi, “Syukurlah.”
Diapun diam beberapa saat.
“Mi, kalau aku tidak ada bagaimana?”
“Apa maksud oppa? Kenapa oppa tiba-tiba bertanya begitu?” aku menggerakkan bahuku dan membuatnya mengangkat kepalanya
Dia menatapku tajam ke dalam mataku. Dia memegang kedua bahuku dan membuatku menghadap ke laut. Dia pun kembali menyenderkan kepalanya ke bahuku.
“Jangan bergerak. Aku nyaman berada di sini.” Perintahnya
Aku pun diam dan membiarkannya nyender
“Kalau tidak ada kau, aku tidak tahu harus hidup bagaimana.” Ujarnya lagi
Kali ini, aku benar-benar ingin berteriak dan marah padanya. Kenapa dia mengatakan hal seperti ini di saat seperti ini? Apa dia mau pergi? Tapi kemana? Atau jangan-jangan…
“Oppa, kau mau putus denganku?” jeritku, “Andwe!”
Dia tiba-tiba tertawa keras, masih bersender di bahuku.
“Kau lucu yah. Aku hanya bercanda. Aku ingin tahu bagaimana reaksimu dan bagaimana kau menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi.” Dia masih saja tertawa
Aku mencubit pahanya kencang, “Oppa, tidak lucu tauk!”
“Tapi, kalau aku tidak ada, kau harus hidup dengan baik. Arasseo?” tambahnya
“Oppa, hentikan.” Gertakku mulai kesal
“Arasseo. Sebenarnya aku cuman mau bilang kalau besok aku akan ke Swiss.” Akunya
“Untuk apa? Kenapa tiba-tiba oppa?” tanyaku tiba-tiba
“Appaku kena serangan jantung dan omma memintaku untuk menengoknya. Tidak papa kan?” Seulong meminta persetujuanku
“Tentu saja. Tapi, appamu tidak parah kan? Dia baik-baik saja? Apa dia sudah sadar?” cerocosku khawatir
“Kenapa kau cerewet sekali? Appaku baik-baik saja. Hanya saja, dia masih belum bisa bangun dari tempat tidur.” Jawabnya sembari tersenyum padaku
Mungkin dia mengira aku khawatir dan berharap bisa menenangkanku dengan senyumannya.
“Kau tinggal lama di sana?” tanyaku
“Ani. Lusa aku akan pulang. Aku tidak suka berlama-lama di sana.” Jawabnya
“Oh…”

:::

Aku mengantarkan Seulong ke bandara.
“Aku akan pulang besok sore.” Katanya
“Arasseo. Besok aku akan menjemputmu. Hati-hati yah oppa. Salam buat appa dan ommamu.”
“Bye…” dia melambaikan tangannya
Aku membalas lambaiannya. Tapi kenapa aku merasa tidak rela dia ke sana? “Sudahlah, besok dia akan pulang.” Aku menghibur diriku sendiri

Keesokan harinya, aku kembali ke bandara dengan untuk menjemputnya. Aku berdiri di depan gate kedatangan dengan memegang segelas mocca kesukaannya. Aku sedikit khawatir, semalam dia tidak memberiku kabar sama sekali. Apa dia baik-baik saja? Aku terus bertanya-tanya dalam hati.
Penumpang pesawat dari Swiss sudah keluar. Aku menajamkan penglihatanku dan menncari sosok Seulong dari kerumunan orang-orang itu. Tapi aku sama sekali tidak menemukannya. Aku bertahan dan menunggu kedatangan selanjutnya, tapi aku kembali mendapatkan hasil yang sama. Hatiku mulai merasa gundah. Apa yang sebenarnya terjadi? Langit mulai gelap. Perasaanku makin tidak enak. Mocca yang tadinya kubawa untuk Seulong sudah aku habiskan sejak tadi. Aku melirik jam di tanganku, sudah pukul 11 malam.
Tiba-tiba kata-kata Seulong malam itu melintas di benakku.
“Apa karena ini dia mengatakan itu semua?” aku membatin, “Apa dia benar-benar ingin meninggalkanku?”
Tanpa terasa, segulir air hangat mengalir di sela-sela pipiku. Membayangkan hari-hariku selanjutnya tanpa dia, aku benar-benar tidak sanggup. Air mataku makin deras mengalir. Orang-orang di sekitarku mulai memperhatikanku kebingungan. Kepalaku terasa berat, keringat dingin mengucur dari pelipisku, lututku bahkan gemetar tidak sanggup menahan badanku. Akhirnya aku ambruk dan aku tidak ingat apa –apa lagi.

:::

Perlahan aku membuka mataku. Penglihatanku masih gelap, kepalaku pun masih nyut-nyutan. Aku meringis dan memegang kepalaku yang terasa sangat sakit.
“Mimi…”
terdengar seseorang memanggilku. Aku menajamkan penglihatanku. Kelima sahabatku memandangku khawatir
“Kau baik-baik saja?” Tanya Jeanne yang duduk di sebelahku
“Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kau tiba-tiba pingsan di bandara tengah malam begini?” tambah Fefe
Aku tidak sanggup menjawab pertanyaan mereka. Aku kembali teringat dengan Seulong. Aku bangkit dan langsung memeluk Jeanne, yang paling dekat denganku. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya
“Hei.. kau kenapa?” Tanya Jeanne tetap tenang
Ini dia kelebihan temanku yang satu ini. Tidak peduli bagaiman keadaannya, dia sanggup menghadapinya dengan tenang. Berbeda dengan teman-temanku yang lain, yang saat ini sudah menghujaniku pertanyaan-pertanyaan karena mereka sangat khawatir padaku.
“Mi, kau kenapa?” Tanya Dian yang memang paling mudah panic
“Apa aku perlu menelpon orang tuamu?” tambah Aira
“Kalian diam dulu.” Sela Fefe, “Biarkan Mimi bicara
sementara Sonrye yang paling polos, hanya berdiri dan diam. Dia menatapku penuh kecemasan.
“Seulong oppa.” Ujarku ditengah-tengah tangisku
Jeanne melepaskan pelukanku. Dia memegang kedua bahuku dan menatapku.
“Ceritakan pelan-pelan, ada apa dengan Seulong oppa? Bukannya kau ke bandara untuk menjemputnya?” Tanya Jeanne
“Dia.. dia tidak kembali, Jeanne.” Tangisku kembali pecah
“Kau sudah menghubunginya?” Tanya Fefe
“Ponselnya tidak aktif. Aku sudah mencobanya berkali-kali.” Jawabku sesegukan
Tidak ada yang bersuara cukup lama.
“Sepertinya kau harus melepasnya. Anggap saja dia tidak pernah ada.” Saran Dian
“Huss..” tegur Aira
“Ya sudah. Kau istirahat saja dulu. Kau pasti sudah sangat lelah.” Ujar Fefe
Aku menuruti permintaan mereka. Walaupun sebenarnya malam itu, aku tidak bisa menutup mataku walau sedetik. Aku terus saja terbayang wajah Seulong.

Im Seulong
Cut~~!!

Okay..
That’s it the special scene of Mimi and Seulong. Kelanjutan ceritanya ada di scene pertama dan di scene-scene selanjutnya. Khusus tuk next scene, author akan berusaha untuk melanjutkannya. So, be patient gals.. ^^
Gomawo..

Author :

ೡSpecialAngelೂ

NEVER TAKE OUT THIS!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s