I Like You, Kwon! [Chapter 3]

TITLE : I LIKE YOU, KWON!

Original Fan Fiction in Chinese by yajfeng (小爱) of Baidu
English translation/revision/editing by twilightelusion@soompi
Indonesian translation/editing by mylittlecozyspace.wordpress.com

FF ini aslinya pake bahasa China, trus di translate ke English. Tapi versi English-nya sudah lumayan beda dari yang asli. Soalnya sebagian besar jalan ceritanya dirubah sama translator English-nya. Nah, lucky me! aku di kasih izin buat translate FF itu lagi ke Bahasa Indonesia.
Semoga semuanya bisa suka yah… ^^

Kalo kalian mau liat English version dari FF ini, kalian bisa lihat disini :

Fanfiction English Version

CHAPTER 3

DI DEPAN DORM BEG

Seul Ong dan Narsha bertemu di dorm BEG. Tanpa basa-basi lagi, mereka berdua berangkat ke rumah sakit dengan mobil Narsha.

“Noona, gomawoyo…” ujar Seul Ong pelan

“Seul Ong ah.. apa yang akan kau lakukan nanti?” Tanya Narsha

Seul Ong menatap Narsha, dia tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sepanjang perjalanan, tidak ada yang mengeluarkan suara. Narsha, yang melihat Seul Ong tidak mau membicarakan hal ini, juga tidak ingin bertanya lebih banyak. Tapi hatinya mulai merasa cemas.

SEOUL GENERAL HOSPITAL, KAMAR GAIN

Saat Seul Ong dan Narsha masuk ke kamar Ga In, mereka melihat Ga In yang tertidur setelah minum obat. Seul Ong duduk di ranjang dan menyentuh jidat Ga In lalu ke lehernya yang terasa dingin.

“In ah, oppa sudah datang. Apa yang terjadi denganmu? Aku….” Melihat Ga In yang terbaring lemas, Seul Ong terdiam. Kesan chic yang selalu melekat padanya tiba-tiba menghilang entah kemana. Sementara Narsha hanya bisa memandang Seul Ong, khawatir.

Narsha mendekati Seul Ong, “Seul Ong ah, biarkan Ga In istirahat.”

“Noona, sebentar lagi.. bolehkan?” Seul Ong yang sadar kalau di ruangan itu bukan hanya dia berdua dan Ga In, menarik tangannya dari wajah Ga In. dia menatap Narsha dengan tatapan memohon.

“Ah…” Narsha terdiam melihat mata Seul Ong. “Arasseo.. tapi jangan terlalu lama ok?”

Seul Ong berbalik dan kembali menatap Ga In. Dia menggigit bibirnya berusaha menahan air matanya. Tapi setetes air matanya terjatuh dan mengenai tangan Ga In yang di pegangnya

“Kau harus segera sembuh. Arasseo? Aku mohon kau harus sembuh.” Seul Ong membungkuk dan berdoa. Melihat itu, Narsha mendekati Seul Ong dan memegang bahunya. Bukannya dia tidak mengerti tapi dia harus menghentikannya

“Seul Ong ah… kau harus sadar. Pergilah cuci mukamu. Ada banyak reporter di luar. Aku mohon jangan membuat Ga In makin khawatir.” Bisik Narsha, tapi Seul Ong bisa mendengarnya dengan jelas.

Menarik napas panjang, akhirnya Seul Ong melepaskan tangan yang digenggamnya. Dia kembali menyelimuti Ga In dan menatapnya sekali lagi.

“Aku cuci muka dulu baru kita pergi.” Ujarnya dengan berat seraya berjalan ke kamar mandi.

Narsha menatap Seul Ong yang berjalan dengan langkah berat. Dia menggelengkan kepala lalu memandang Ga In, “Ga In ah… kau harus bagaimana kelak?”

Seul Ong berdiri di depan washtaffel dan membasuh wajahnya. Dia membuka matanya dan melihat bayangannya di cermin

“Im Seul Ong, kau tidak boleh lupa kedudukanmu disisi Ga In. Jangan pernah lupa itu.”

Dia mengangguk setelah mengambil keputusan itu. Dia menarik napas panjang dan mengeringkan wajahnya dengan handuk di sebelahnya. Dia kembali melihat bayangannya di cermin, kembali meyakinkan dirinya. Seul Ong menarik napas dan berjalan keluar dari kamar mandi

“Noona, maaf aku membuatmu menunggu. Aku sudah siap. Kajja.” Ujar Seul Ong pelan, tidak ingin membangunkan Ga In. Dia tidak sanggup kembali ke ranjang itu. Karena dia tahu, kalau dia kembali kesana, dia akan melupakan kata-katanya di kamar mandi. Narsha mengambil tasnya, menunduk dan menyentuh dahi Ga In sekali lagi. “Ga In ah, unnie pulang yah. Nanti aku akan kembali. Kau harus segera sembuh.” Bisik Narsha. Ga In menggeliat di ranjangnya tapi tidak terbangun.

Narsha pun meninggalkan kamar Ga In bersama Seul Ong.

“Gwencana?” Tanya Narsha

Seul Ong melihat Narsha dan tersenyum. Tidak ada yang tahu maksud senyumnya itu. Narsha juga tidak ingin bertanya lebih jauh lagi. Mereka menunggu lift dengan tenang.

“Noona, gomawoyo.” Kata Seul Ong

Narsha bisa melihat rasa terima kasih dari matanya. Tapi bersama dengan kebahagiaan itu, juga ada kesedihan di dalamnya. Dan cinta. Narsha tidak sanggup menatapnya lebih lama lagi. Dia melempar pandangannya sembari menarik napas panjang untuk menahan air matanya.

LOBBY RUMAH SAKIT

Kwonnie berlari ke dalam rumah sakit lalu menuju lift. Dia menekan tombolnya dengan tidak sabar.

“Ding” akhirnya suara pertanda lift sudah sampai di lantai itu berbunyi. Kwonnie masuk dengan tidak sabar, tanpa menyadari orang di dalam lift itu.

Narsha memandang pria yang berdiri di depannya. Awalnya dia tidak mengenali Kwonnie.

“Kwon ah, kau datang.” Seul Ong yang juga kaget karena dia tahu Kwonnie sedang shooting FO dan harusnya baru kembali besok atau sore ini. Tapi dia sadar begitu melihat Narsha yang juga kaget. Dia menarik Narsha keluar dari lift.

Kwonnie menatap Seul Ong, tatapannya tidak bisa terbaca saat itu. Tapi Seul Ong paham. Narsha akhirnya sadar dari kekagetannya tapi dia tidak cukup cepat untuk memperhatikan pandangan dari kedua pria di sebelahnya.

“Oh.. Kwon ah, kau datang… kami baru saja akan pulang. Ga In masih tidur.. Mungkin…” Narsha tidak melanjutkan kata-katanya

“Gwencanayo. Aku hanya ingin melihatnya. Kalau tidak, aku akan terus memikirkannya.” Kwonnie tersenyum seperti biasa agar dia tidak khawatir.

“Oh arasseo. Naiklah dan jenguk dia. Tapi jangan tinggal terlalu lama dan pulang lewat pintu belakang. Ada banyak reporter di depan. Kami tidak mau ada berita tentang Ga In lagi di halamat depan.” Melihat keseriusan Kwonnie, Narsha tidak berani untuk melarangnya.

Narsha pun berjalan meninggalkan Kwonnie.

“Tunggu aku pulang. Kita harus bicara.” Bisik Kwon. Tanpa menunggu jawaban dari Seul Ong, Kwonnie kembali ke dalam lift dan naik ke kamar Ga In

KAMAR GAIN

Kwonnie berdiri di depan kamar Ga In. Dia menarik napas dalam-dalam lalu membuka pintu perlahan. Dia masuk dan berusaha tidak membuat keributan. Dia meletakkan tasnya di sofa dan berjalan ke ranjang Ga In

Wajah Ga In yang pucat dan badannya yang lemas membuatnya ikut merasa sakit. Dia duduk di sebelahnya. Walaupun wajahnya, yang tanpa make up, terlihat jauh berbeda dari dia biasanya yang glamour dan sexy, tapi wajah itu justru membuatnya ingin lebih mencintainya. Dia sudah berusaha keras untuk melihat wajah tanpa make up ini di WGM, tapi Ga In selalu menolak. Dia bilang kalau dia takut orang akan bilang kalau dia jelek.

“Yeppoda… Siapapun yang bilang kalau kau jelek, dia pasti buta…” ujar Kwonnie pelan, takut akan membangunkan Ga In

Wajah yang ingin dia lihat sejak dulu, kini ada di depannya. Kalau saja mereka bukan di rumah sakit dan dia tidak terbaring di ranjang ini, pasti akan sangat sempurna.

Dia memandang Ga In, dia bisa merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Dia tidak bisa bergerak. Perasaan itu tiba-tiba menyelimutinya. Dia tidak bergerak dan tidak mengatakan apa pun. Perlahan, dia mendekat dan lebih dekat ke wajah Ga In. Dia menunduk dan mengecup bibir Ga In, kilat.

Tiba-tiba dia sadar. Dia mengangkat kepalanya, wajahnya bersemu merah. Untungnya Ga In masih tidur.

“Yeo Bo, itu ciuman pertamaku. Kau harus lebih baik padaku mulai sekarang.” Ujar Kwonnie bercanda karena melihat Ga In yang tidak berreaksi.

Saat itu juga, Gain tampak mulai sadar dari tidurnya. “ Unnie?” bisik Ga In. Matanya masih terpejam.

“Noona tidak ada di sini. Ini aku, Kwon.” Kwonnie turun dari ranjang

Ga In merasa dia mendengar suara yang sangat ingin dia dengar. Dia mengumpulkan seluruh kekuatannnya dan perlahan membuka matanya. Dia disambut senyum yang dia impikan.

“Aku pasti bermimpi. Sepertinya aku benar-benar sakit. Aku bahkan berhalusinasi melihat Kwonnie…”

Walaupun Ga In mengatakannya dengan pelan, tapi Kwon bisa mendengarnya. Ga In tampak seperti seorang gadis kecil. Kwon tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengar kata-kata itu.

“Yeobo! Kau tidak berhalusinasi. Aku benar-benar di sini!” kata Kwonnie dengan suara lumayan kencang.

Mendengar suaranya, Ga In benar-benar tersadar. “Ah!” apa itu benar Kwonnie? Dia terus-terusan menatap Kwonnie, berusaha mengenalinya.

“Ya! Aku tahu kalau aku ini cakep, tapi kalau terus-terusan menatapku seperti itu, aku akan benar-benar mengira kalau kau jatuh cinta padaku.” Walaupun dia mengatakannya bercanda, tapi di dalam hatinya dia berharap kalau itu benar terjadi.

“Ya! Aku ini pasien. Reaksiku pasti lebih lambat. Siapa yang melihatmu?” melihat laki-laki itu tertawa, dia menjadi kesal, berusaha mengangkat tangannya untuk memukul Kwon. Tapi saking semangatnya, Ga In mulai batuk. Perutnya terasa perih.

Kwonnie dengan cepat menepuk punggung Ga In, “ Yeobo, kenapa kau selalu membuat dirimu sakit? Apa kau memang selalu ingin diperhatikan olehku, baru kau bisa baik?” setengah bercanda, setengah serius, Kwonnie mulai mengomel.

“Siapa bilang kalau aku butuh kau perhatikan? Aku bisa mengurusi diriku sendiri!!” dia sedikit bingung dengan keseriusan Kwonnie. Ga In pun berusaha berbalik melepaskan tangan Kwonnie dari punggungnya.

Kwonnie mengambil kesempatan itu dan memeluk Ga In hangat. Ga In terkejut dan malu. Dia mulai menggerakkan tubuhnya dan mendorong Kwonnie. Tapi semakin dia mendorong Kwonnie, Kwonnie justru makin mengeratkan pelukannya.

“Ga In, aku mohon, biarkan aku memelukmu sebentar saja.”

Ga In tidak pernah mendengar suara Kwonnie seperti itu. Pikirannya mendadak kosong. Pelukan yang tiba-tiba, bersama dengan suara itu, membuat Ga In terpaku dan tetap berada di pelukan Kwonnie.

“Apa kau senang selalu membuatku khawatir padamu? Kenapa kau tidak bisa menjaga dirimu sendiri?”

Ga In berniat menjawab Kwonnie, tapi dia tidak bisa mengeluarkannya dari mulutnya.

“Untungnya kau baik-baik saja. Kau tidak tahu seberapa bencinya aku pada diriku sendiri begitu mendengar kau di rumah sakit. Bagaimana mungkin aku tidak sadar kau sedang sakit? Kenapa aku mengabaikannya saat kau bilang kalau kau baik-baik saja? Aku benar-benar bodoh!” kekecawaannya pada dirinya sendiri tergambar jelas dari tiap katanya

“Kwonah..”

Kwonnie melepaskan pelukannya. Dia memegang kepala Ga In dengan kedua tangannya dan menatapnya tepat di matanya.

“Kau harus berjanji padaku, kau tidak boleh sakit lagi. Kalau tidak hatiku juga akan sakit.”

Melihat wajah yang tepat di depannya, ekspresi yang benar-benar serius, Ga In merasakan kehangatan menyelimuti dirinya. Dia kehilangan dirinya yang biasanya keras dan menjawab “ok” dengan pelan.

Mendengar Ga In yang berjanji padanya, dia dengan lembut kembali menidurkannya.

“Kelihatannya kau sudah cukup baik, aku harus pergi sekarang. Istirahatlah dan kau bisa sembuh lebih cepat!” Kwonnie tidak menunggu jawaban Ga In, dia berbalik mengambil tasnya dan berniat pergi.

“Jamkamman…” Gain bangun dan meraih lengan Kwonnie.

Dia melihat tangannya cukup lama. Dia baru sadar apa yang baru saja dia lakukan. Dia dengan cepat melepaskan lengan Kwonnie. Melihat wajah Ga In yang tampak malu, kebahagiaan mengisi hatinya.

“Mm.. apa kau bisa tinggal di sini sampai aku tertidur lagi?” gumam Ga In. Ga In yang biasanya selalu menjaga gengsinya tiba-tiba menghilang entah kemana.

“Arasseo.” Kwon setuju. Dia membantu Ga In kembali tidur, menyelimutinya dan duduk di sisi ranjang. Dia mengenggam tangan Ga In. Ga In melihat ke arah Kwon.

“Jjalja jagiya, aku akan selalu di sisimu.” Ujar Kwonnie pelan.

Saat itu, dia bukanlah Ga In yang biasanya keras tapi hanya seorang wanita biasa yang menikmati kasih sayang dan perhatian dari laki-laki ini. Merasakan kehangatan tangan Kwonnie, Ga In menutup matanya dan kembali ke alam mimpi. Saat itu antara tidur dan sadar, senyumnya mengembang.

Dia berharap ini bisa berlangsung selamanya, Kwonnie yang menggenggam tangan Ga In, Ga In dengan senyum di wajahnya. Seisi dunia terasa tidak ada. Hanya mereka berdua. Kebahagiaan menyelimuti mereka berdua.

END OF CHAPTER 3


My Notes: Sampai chapter ini, smuanya masih asli… dan karna aku dah dapat izin dari yg punya buat edit2 jalan ceritanya, mulai next chapter cerita ff ini mulai sedikit beda dgn yg asli.. hehehe…
Jangan lupa like + comment okay… ^^

Advertisements

7 thoughts on “I Like You, Kwon! [Chapter 3]

  1. seul ong oppa suka gain.. tapi baguslah dia sadar kalo ga gain ga pnya perasaan apapun slain teman dan kaka yg baik..
    Kwonnie oppa….. cieeeeeeeeeeeeee .. gtu dong, gentleman..
    ahahaha..
    XDD

    gain eonni cpet smbuh yaaa.. ^^

  2. oalh Ong oppa tuh Seul Ong…
    baru mudeng diri qw….
    heheeh…

    mian2…abis di singkat2…
    wkwk…

    i like this dongsaeng…~~~
    seul ong oppa patahhati yak….
    sini sama yoo ra saja….*di gampar ma iseul*
    hehehe…

    • jiyaaahh~~
      si onni baru ngeh… ehehhehe

      what??!! ak aj yg dari kmarin2 buka hati n buka tangan lebar2 mau nerima ong oppa, ga dapet2!! masa ke onnie seeeh??!! >,<

      hehehe

  3. ibuw vira…nnti z jd Miss Cupid bwt kwu ma Ong oppa but critax k dpnx jg n bwt kwonnie cemburu lg…othre…
    Waaah kwonnie Q slalu mndukung mu…lebay Mode On..^^

    • yaaahh..
      dak seru jalan cerita onnie klo mulus2ki…
      langsung mi tamat dong… ^^
      sabarkan hati saja… nikmati jalan crita onn… hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s