FF OS || Am I an ANGEL? NO! I’m a WITCH!!

Title : Am I an ANGEL? NO! I’m a WITCH!!

Genre : Romance

Author : -virANgel-

Cast :

Jiyeon menggandeng tangan pacarnya, Joon, dengan erat. Kepalanya disandarkan di lengannya sambil terus berjalan. Dia menengok ke atas dan melihat Joon tersenyum padanya. Hari itu mereka baru saja kembali dari kencan. Seharian Joon mengajak Jiyeon ke taman bermain, menonton film, dan makan malam. Hari yang sangat membahagiakan untuknya.

Mereka menghentikan langkahnya begitu mereka tiba di depan rumah Jiyeon. Jiyeon melepas gandengannya dan berdiri di depan Joon.

“Oppa, oneuleon gomawossoeyo.” Ujarnya sembari memperlihatkan senyuman termanisnya.

Joon mencubit pipi Jiyeon, gemas. “Eung. Na dou haengbokhae. Gomawo.”

“Sudah malam. Masuklah dan istirahat.” Tambahnya. Joon memegang pipi Jiyeon. Jiyeon bisa merasakan kehangatan dari tangannya.

Jiyeon mengangguk dan berjalan meninggalkan Joon. Tapi Joon tiba-tiba menarik tangannya dan membuat Jiyeon berbalik. Dia menatap Joon bingung.

“Waeyo oppa?”

Tanpa menjawab Joon memeluk Jiyeon erat. “Saranghae.” Bisiknya tepat di telinga Jiyeon.

Jiyeon merasa meleleh mendengar kata-kata Joon. Senyum terukir jelas di bibirnya. Joon melepas pelukannya dan menatap Jiyeon tepat di matanya. “Na dou saranghae oppa.” Jawab Jiyeon seakan-akan mengerti pikiran Joon. Joon pun tersenyum mendengarnya.

Joon mengantar Jiyeon sampai depan pintunya. “Jalja.” Diapun meninggalkan Jiyeon yang masih menatap Joon dari pintu rumahnya.

==

Sudah sebulan sejak Jiyeon masuk universitas. Satu-satunya temannya hanya Hyunah. Seorang wanita yang menyelamatkan hidup Jiyeon sebulan lalu. Yang membantunya bebas dari terkaman orang-orang tak beradap malam itu.

Hari itu Jiyeon harus pulang malam karena mengurusi segala kebutuhannya untuk masuk ke universitas. Dia berjalan di sebuah jalan yang cukup gelap dan sepi. Tiba-tiba segerombol pria menarik barang-barangnya dan nyaris membunuhnya. Untung saja Hyunah datang tepat waktu dan membantunya memanggil orang-orang di sekitar tempat itu yang berhasil membuat berandalan itu lari ketakutan.

Walaupun Jiyeon sangat menyayangi dan dekat dengan Hyunah, tapi dia tidak pernah menceritakan kehidupan pribadinya padanya. Dia bukan tipe orang yang terbuka. Terlalu banyak hal buruk di masa lalu nya yang hanya bisa membuka luka untuknya kalau diceritakan. Dan Hyunah mengerti hal itu. Jiyeon pun pernah menceritakan soal Joon pada Hyunah, mereka kan juga baru berteman selama sebulan.

“Jiyeon-ah.” Panggil seseorang. Dari suaranya yang terdengar seperti bayi, Jiyeon sudah bisa menebak siapa.

Jiyeon menoleh dan melihat Hyunah berdiri di pintu kelas sambil melambaikan tangannya, memanggil Jiyeon

Jiyeon menutup buku yang dibacanya seraya berjalan mendekati Hyunah. “Wae?”

Wajah Hyunah berseri-seri. Entah apa yang terjadi padanya, tapi Jiyeon yakin kalau itu adalah hal yang menggembirakan. “Any good news?” tanyanya sebelum Hyunah sempat bicara

Hyunah mengangguk sambil tersenyum. “Orang tuaku menjodohkanku dengan seorang pria.” Jawabnya bersemangat.

Jiyeon mengernyitkan dahinya. Dia menatap Hyunah tidak percaya. “Halo!! Sekarang jaman apa tapi masih jodoh-jodohan segala?” batin Jiyeon

“Trus?” Tanya Jiyeon

Hyunah memegang kedua bahu Jiyeon. “Dia tuh ‘My first love’!!” jerit Hyunah.

Jiyeon tersenyum. “Yeah, I got the good news now.” Hyunah ikut tersenyum. “So, what should I do for this event? Temenin kamu buat beli baju? Beli kado? Or what?”

Hyunah menunduk. Kakinya dia geser-geserkan ke lantai. “Mmm..” gumamnya tidak jelas. “Jiyeon-ah, kau mau menemaniku bertemu dengannya?”

“WHAT?!” mata Jiyeon terbelalak melihat temannya yang menatapnya dengan puppy eyes nya. “Puhwease…”

Jiyeon menggaruk belakang lehernya. “Aish..” gerutunya.

“Aku tidak berani bertemu dengannya sendirian. Mungkin saja nanti aku menumpahkan air atau bahkan menjatuhkan piring saking nervous-nya.” Tambah Hyunah. Suara baby-nya lagi-lagi dia perdengarkan. “Yah-yah-yah..” bujuknya

Jiyeon menghembuskan napasnya. “Arasseo. Tapi aku hanya akan duduk di meja di sebelahmu. Aku tidak mau duduk bersama kalian. Menjadi kambing congek sama sekali tidak asyik, kau tau Hyunah.”

“Call!!” Hyunah mengangkat tangannya setuju. “Gomawo! Yeoksi, uri cheonsa!!”

Seorang pria paruh baya berjalan melintasi mereka. Jiyeon melihat ke arah orang itu berjalan. “Ya! Dia dosen kita. Ayo masuk!” kata Jiyeon begitu sadar dan berlari terbirit-birit bersama Hyunah ke kelas.

==

Jiyeon POV:

 

Aku duduk di meja belakang Hyunah. Hyunah duduk membelakangiku agar aku bisa melihat cinta pertama temanku ini. Sejak tadi kulihat Hyunah tampak gugup. Sudah berapa kali dia berbalik ke arah ku. Tiap kali dia melihatku, aku hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah lakunya.

Tiba-tiba dia berdiri. Dia membungkuk menyapa seseorang yang baru masuk ke café.

Deg!

“Dia..” jantungku berdetak tak karuan. Aku berusaha meyakinkan diriku kalau bukan dia yang dimaksud Hyunah.

Dia berjalan mendekati Hyunah, sama sekali tidak menyadari keberadaanku. Dia tersenyum, tapi aku tahu tidak ada perasaan istimewa di balik senyumnya.

“Annyeonghaseyo.” Sapa Hyunah seraya menyodorkan tangannya

Dia membalas uluran tangan Hyunah, “Ne, annyeonghaseyo.”

“Dia melihatku!” batinku

Senyumnya menghilang begitu saja. Hyunah yang tampaknya menyadari keanehan di wajahnya, melihat ke arah pandangan pria di depannya.

“Oh.. dia temanku, Jiyeon.” Sahutnya, dengan suara bayinya

“J-ji..” ujarnya terbata-bata. Aku meletakkan jari telunjukku di ujung bibirku, memintanya untuk diam. Akhirnya dia hanya bisa menatapku, merasa bersalah.

Hyunah meminta Joon untuk duduk, tapi matanya masih belum bisa lepas dariku. Mataku terasa berair. Hatiku benar-benar sakit. Cinta pertama sahabatku adalah pria yang sangat kucintai. Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Moment-moment indahku bersama Joon disertai ingatan saat Hyunah menolongku terus terputar di kepalaku. Aku merasa pusing. Aku ingin muntah hanya dengan memikirkannya.

Aku berdiri dan berjalan melewati meja Hyunah.

“Kau mau kemana?” Tanya Hyunah. Aku berhenti, menarik napas panjang, lalu memasang senyum di wajahku, “Ke toilet.” Dia pun mengangguk. Aku sempat melihat ke mata Joon saat berjalan. Kupercepat langkahku.

Aku berdiri di depan cermin. Dengan cepat kucuci wajahku, berharap agar aku bisa sedikit lebih tenang. Setelah kukeringkan wajahku dan kurasa perasaanku cukup tenang, aku keluar dari toilet. Joon berdiri di depan toilet. Dengan perlahan aku mendekatinya.

“J-Jiyeon-ah.” Ujarnya terbata saat melihatku. “Ini tidak seperti yang kau pikirkan.”

Aku tersenyum padanya seraya menggeleng. “Anieyo oppa. Aku mengerti. Sebaiknya kau kembali. Hyunah pasti sudah menunggumu.”

Dia menggenggam tanganku, “Aku melakukan ini untukmu. Kau tahu kan appa ku tidak merestui hubungan kita. Aku harus mengikuti perintahnya agar dia tidak curiga dan mengganggumu lagi seperti dulu. Aku berencana akan bilang pada Appa ku kalau aku tidak menyukai Hyunah setelah ini.”

Aku melepaskan genggaman tangannya dan memegang dadanya. “Oppa.. aku mohon jangan kecewakan Hyunah.”

Dia membelalakkan matanya, menatapku, tidak percaya. “Musun..”

“I mean it, oppa..” ujarku sungguh-sungguh

Joon’s POV:

“I mean it, oppa..” ujarnya bersungguh-sungguh.

Aku menatap lebih dalam ke matanya. Tidak ada keraguan di sana. Hatiku terasa sangat sakit mendengarnya. Aku lebih memilih dia marah dan memukulku saat ini.

“Jiyeon-ah..”

Dia tersenyum. Matanya berkaca-kaca menatapku. “Oppa, kau ingat aku pernah cerita tentang seseorang yang menyelamatkan nyawaku sebulan lalu?” tanyanya.

Ingatan ku berputar, dan aku mengangguk begitu mengingat masalah itu.

“Orang itu Hyunah. Hyunah yang telah menolongku malam itu.”

Aku membatu. Bibirku tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun.

“Oppa.. lakukan ini untukku. Ku mohon.” Dia memelukku dengan erat, “Aku tahu kau mencintaiku. Dan kau tahu kalau aku juga mencintaimu. Tidak akan ada yang berubah. Aku hanya ingin kau membahagiakan Hyunah. Aku berhutang nyawa padanya oppa. Aku tidak akan memaafkan diriku kalau sampai dia terluka karena aku.”

Dia melepaskan pelukannya. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. Pikiran terlalu kalut untuk bisa bertindak saat ini. Tiba-tiba mengecup pipi ku, kilat.

“Saranghaeyo oppa.”

Dia pun berjalan meninggalkanku yang masih diam berdiri menatap punggungnya.

Author’s POV:

Jiyeon berjalan mendekati Hyunah. Begitu Hyunah melihatnya, Jiyeon tersenyum paksa ke arah nya.

“Hyunah-yah, aku pulang duluan yah.” Kata Jiyeon setelah mengambil tasnya

Hyunah memegang tangan Jiyeon. “Wae? Eodi appo?”

Jiyeon tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. “Ani. Aku ada janji lain. Lagipula, aku tidak mau mengganggu kencanmu dengannya.” Jiyeon menelan ludahnya saat mengatakan kencan, berusaha menahan sakit di hatinya.

Akhirnya Hyunah mengangguk. “Arasseo. Jalga.”

Jiyeon mengecup pipi Hyunah dan pamit meninggalkannya. Dari dalam café, Joon menatap Jiyeon dengan mata berkaca-kaca.

==

Sudah seminggu Jiyeon tidak bertemu bahkan berhubungan dengan Joon. Dia bahkan tidak ke kampus. Dia tidak jamin sanggup konsentrasi pada kuliahnya di saat seperti ini. Dia beralasan pada Hyunah kalau dia merasa sakit. Pada dasarnya, Jiyeon tidak berbohong. Hatinya yang sakit saat ini. Dia tidak mau melihat wajah Hyunah. Dia membenci semua kenyataan yang ada. Dia membenci kenyataan bahwa cinta pertama Hyunah adalah pacarnya, Joon. Dia membenci kenyataan bahwa Hyunah yang telah menyelamatkan nyawanya malam itu. Dan dia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempertahankan cintanya.

Hari itu Jiyeon memutuskan untuk bertemu Joon. Bukan..bukan bertemu dengannya, tapi hanya melihat wajahnya. Rasa rindunya sudah memuncak sampai ke ubun-ubunnya. Dia tidak bisa menahan perasaannya. Dia ingin melihat pria yang dicintainya, walaupun hanya dari jauh.

Jiyeon berjalan melewati koridor yang sepi dan dingin. Dia tahu hari ini Joon akan ke tempat ini untuk latihan dance.

Begitu Jiyeon sampai di depan sebuah pintu, tangannya siap membuka pintu saat dia mendengar suara yang sangat dikenalnya. Dia terpaku dan memasang telinganya lebih tajam.

“Lee Joon oppa…” gumam Hyunah. Matanya terpaku menatap lantai.

“Mm?” sementara Joon hanya duduk di lantai sambil membersihkan keringatnya setelah dance yang cukup melelahkan.

Dia bersender di dinding yang terbuat dari cermin, pikirannya tidak lepas dari Jiyeon. Dia sangat merindukan putri imutnya itu.

“Saranghae..” lanjut Hyunah.

Joon membelalakkan matanya. Kata-kata yang sangat tidak ingin dia dengar dari Hyunah sudah terucap.

Hyunah memegang wajah Joon dengan kedua tangannya. Perlahan Hyunah mendekatkan wajahnya ke arah Joon. Dan akhirnya bibir mereka bertemu.

Mata Joon terpejam. Bayang-bayang Jiyeon muncul di depan wajahnya. Jiyeon tersenyum dengan sangat manis. Tanpa dia sadari, Joon membalas ciuman Hyunah. Tiba-tiba wajah Jiyeon saat menangis muncul di ingatannya. Joon membuka matanya dan melihat Hyunah di depannya. Dengan cepat dia melepaskan ciuman Hyunah.

“Apa yang kau lakukan di sini noona? Kau mencari Joon hyeong?” Tanya seseorang dari belakang Jiyeon

Jiyeon berbalik, kaget. Dia melihat Mir yang menatapnya bingung.

“A-aniya.” Jiyeon menggelengkan kepalanya, berusaha bicara dengan volume sekecil mungkin.

Mir makin menyipitkan matanya, “Kenapa kau berbisik-bisik begitu noona?” Mir ikut mengecilkan suaranya.

“Mir?” teriak Joon dari dalam. Dia terlanjur mendengar suara Mir tadi.

Jiyeon menoleh ke pintu. Dari kaca kecil di tengahnya, dia bisa melihat Joon berjalan mendekatinya. “Aish!” Jiyeon lalu berlari meninggalkan Mir yang berteriak memanggilnya, “Noona!”

Joon membuka pintu. “Apa yang terjadi di sini?”

“Jiyeon noona gwa isanghae hyeong.” Jawab Mir yang masih melihat ke arah koridor yang tadi di lewati Jiyeon.

“J-jiyeon? Kau bilang tadi Jiyeon ada di sini?” Tanya Joon panic

“Hm.” Mir mengangguk yakin.

Tanpa berpikir lagi, dia berlari keluar dari studio itu. Berusaha mengejar Jiyeon yang entah kemana. Joon terus berlari mengelilingi studio mencari Jiyeon. Dia berhenti saat melihat orang yang sangat dikenalnya sedang duduk di sebuah bangku di taman. Dia berjalan mendekatinya, perlahan.

Jiyeon duduk di bangku taman. Wajahnya dia benamkan di kedua tangannya. Air matanya berusaha dia tahan. Jiyeon berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara. Semuanya tertahan hingga membuat hati Jiyeon makin sakit.

“Joon oppa menciumnya.” Batin Jiyeon

Walaupun Jiyeon yang memintanya untuk tidak mengecewakan Hyunah, tapi tetap saja dia tidak sanggup menahan rasa sakit hatinya saat melihat bibir mereka bertautan.

Tiba-tiba seseorang menyentuh bahunya. Dia menoleh dan mendapati Joon yang menatapnya dengan tatapan sedih. Melihat wanita yang disayanginya menangis dan berusaha menahan sakit, justru membuat hati Joon lebih sakit.

Joon berjongkok di depan Jiyeon. Tangannya menggenggam tangan Jiyeon, erat. Dia menatap Jiyeon tepat di matanya.

“Mianhae..” kata Joon akhirnya.

“Hkk.. hkk..” Jiyeon berusaha menahan tangisnya.

Tangan kanan Joon menyentuh wajah Jiyeon. “Jangan kau tahan. Menangislah sepuasmu.”

Akhirnya semua yang sejak tadi di tahan oleh Jiyeon keluar. Air matanya tumpah tak terkendali. Suara isakannya makin terdengar.

“Nappeun neom!” teriak Jiyeon sambil memukul dada Joon. “Kenapa kau menciumnya! Kenapa kau menyentuh bibirnya! WAE?!”

Joon menarik Jiyeon ke dalam dekapannya. Jiyeon menangis di dada Joon. Joon mengelus rambut Jiyeon, penuh rasa sayang.

“Lain kali kalau aku tidak ada, jangan pernah menangis sendirian. Arasseo!” kata Joon, masih memeluk Jiyeon. Perlahan Jiyeon mengangguk.

Jiyeon mengangkat kepalanya dan meletakkannya di bahu Joon. “Jangan pernah meninggalkanku lagi.” Joon tersenyum dan memeluk Jiyeon lebih erat. “Bahkan jika aku memintamu.” Tambah Jiyeon.

Jiyeon bisa melihat Hyunah yang berlari mendekati mereka. Jiyeon tersenyum.

“Mianhe Hyunah-yah. Kali ini aku bukan ‘angel’ seperti yang selalu kau bilang. I ’ M   A   W I T C H ! !” batin Jiyeon

–END–

FINALLY!!! akhirnya nih FF selese juga… mian buat yg udah nunggu lama.. n mian lagi kalo ga sesuai keinginan kalian.. author cuman bisa ngasih segini panjangnya…eh,pendeknya deng.. hehehe… O iya, segala jenis komen di terima, tapi NO BASHING! yah.. HAPPY READING!!

Ps: Ada yg mau ngasih ide buat cast saya di next FF OS?? terserah pairing nya siapa, tapi semuanya harus k-artist, bukan fiction..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s