FF OS [Nothing’s Over]

Woiii~~~ Vira is backkk!!! Kali ini diriku cuman buat OS.. ga sanggup lg deh buat yg chapter2 untuk saat sperti ini.. O iy.. ini aku buat soalnya lagi kangen banget ama laki ku atu ini… NAE RACCOONIE!!! (cha!! jgn protes!!)Warning:Karakter di FF ini adalah Kang in dan Yoon ji. jadi buat yang ga suka ama Yoon ji, mending ga usah di baca. soalnya author maunya “NO BASHING“!!PS: buat yang ga ke-tag, ngelapor!! soalnya author bingung mau tag siapa.. hehehe 😛


Kang in ❤ Yoon ji


Baby Jeong min

Staarrtt~

Yoon ji menggandeng anak laki-laki satu-satunya berjalan dari taman. Jeong min yang masih berumur 1 tahun lebih, mengangkat kepalanya dan melihat ke arah ommanya sambil tersenyum bahagia. Salah satu tangannya memegang sebuah bola kecil.

“Aioo.. Kau sangat senang sudah bermain di taman? Heuh?” Tanya Yoon ji yang melihat anaknya tersenyum sejak tadi.

Sementara Jeong min yang ditanya hanya tersenyum sambil berjalan dengan riang. Yoon ji kembali berjalan sambil mengayun-ayunkan tangannya hingga membuat Jeong min sedikit jinjit saat berjalan.

Setelah Kang in menyelesaikan tugasnya sebagai seorang warga Negara Korea di wajib militer 3 tahun lalu, dia tidak lagi melanjutkan karirnya di dunia entertainment. Dia memutuskan untuk melanjutkan bisnis keluarganya yang akhirnya mempertemukannya kembali dengan Yoon ji setelah mereka menyelesaikan hubungan suami-istri ala WGM-nya dulu. Mereka yang sejak dulu memang memiliki feeling satu sama lain, kembali disatukan dijalan pernikahan yang sesungguhnya.

Kehidupan rumah tangga mereka sangat bahagia dan damai. Ditambah lagi sejak pernikahan mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang imut, Jeong min. Tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaan yang dirasakan Kang in dan Yoon ji.

“Jeong min omma!” teriak seseorang dari belakang Yoon ji.

Yoon ji menoleh dan mendapati seorang wanita yang seumuran dengannya berjalan mendekatinya.

“O.. Heebin omma.” Ujarnya, “Waeyo?”

Heebin omma memberikan sebuah amplop pada Yoon ji. “Minggu depan Heebin ulang tahun. Sempatkan datang ke rumah kami bersama Jeong min yah.” Katanya sambil tersenyum

Yoon ji melepas tangan anaknya dan membuka isi amplopnya. Tiba-tiba bola yang sejak tadi digenggam Jeong min, terjatuh dan menggelinding ke jalan. Sambil tersenyum Jeong min berlari ke jalan tempat bolanya berdiam diri. Sementara Yoon ji masih berbincang dengan temannya tanpa menyadari anaknnya.

Biiippp!!

Terdengar suara klakson mobil. Yoon ji menoleh dan melihat sebuah mobil melaju dengan kencang ke arah Jeong min yang sedang berjongkok memungut bolanya.

Amplop yang sejak tadi dipegang Yoon ji terjatuh ketanah. “Jeong min-ah!!” teriaknya kencang.

Jeong min berbalik setelah mengambil bolanya.

Bbbaang!!

Terlambat. Mobil itu melaju terlalu kencang. Jeong min terpental cukup jauh. Heebin omma menutup mulutnya dengan punggung tangannya, kaget. Persendian di seluruh badan Yoon ji mendadak rapuh. Dirinya terjatuh dan duduk menatap anaknya yang bersimbah darah sambil memegang bola kesayangannya.

“JEONG MIN-AH!!!” teriak Yoon ji bersamaan dengan tangisnya yang pecah

~~~

Kang in berlari memasuki rumah sakit. Kemejanya tidak karuan. Dia berhenti saat mendapati seorang suster.

“Dimana anakku?!” tanyanya panik

Suster itu menatap Kang in, bingung. “Ne?”

“Anak laki-laki berumur setahun lebih. Baru saja dilarikan kesini karena kecelakaan.” Jelasnya.

Akhirnya suster itu mengangguk. “Dia masih di ruang UGD. Dari sini terus saja ke belakang. Di sebelah kiri ada sebuah ruangan yang bertuliskan UGD.”

“Gomawoyo.” Kang in kembali berlari ke arah yang diberikan suster tadi.

Begitu memasuki gerbang UGD, Kang in sudah bisa melihat istrinya berjongkok di depan pintu sambil menatap kosong ke lantai. Perlahan Kang in mendekati Yoon ji.

“Yoon ji.” Sahutnya perlahan. Tidak ada respon. Kangin berjongkok di depannya. “Yoon ji-ah. Neo gwaenchana?” tanyanya benar-benar khawatir.

Yoon ji mengangkat kepalanya. Air matanya tertumpah. Tangannya gemetar tak karuan. Dia menggigit bibir bawahnya berusaha menahan tangisnya.

Kang in memeluk istrinya erat. “Gwaencana. Uljima Yoon ji-ah. Gwaencana.” Kang in mengelus kepala Yoon ji lembut

“Mianhe.” Ujar Yoon ji di sela isak tangisnya. “Ini semua karena aku. Aku yang tidak bisa menjaga Jeong min dengan baik. Mianhe nampyeon.” Yoon ji terisak di dada Kang in yang bidang.

“Ssh..” Kang in masih membelai istrinya dengan lembut. “Sekarang dimana Jeong min?”

Tangis Yoon ji makin jadi setelah mendengar pertanyaan Kangin. “Jeong Minnie. Uri jeong Minnie.” Yoon ji terus menangis.

Sampai seorang dokter keluar dari ruangan di depan mereka. Dengan cepat Kang in berdiri dan menghampiri dokter itu. “Bagaimana anak kami?”

Dokter itu tidak menjawab. Dia melirik kea rah Yoon ji yang masih berjongkok dan mengenggam erat bola milik anaknya.

Kangin menatap dokter itu. Dia menatap Kang in sembari menggeleng perlahan. “Maafkan kami. Anak itu kehilangan terlalu banyak darah. Kami tidak bisa menyelamatkannya lagi.”

“JEONG MIN-AH!!” teriak Yoon ji lagi begitu mendengar kata-kata dokter itu.

Kang in kehilangan focus. Hampir saja dia jatuh kalau tidak di pegang oleh dokter. “Choesonghamnida.” Katanya seraya pergi setelah Kang in bisa kembali berdiri.

Yoon ji masih terus menangis memanggil-manggil nama anaknya. Rasa sakit dan kehilangan sangat terasa di sepanjang koridor itu. Suara tangis Yoon ji mengisi seluruh ruangan.

Perasaan Kang in bercampur aduk. Anak satu-satunya tidak ada lagi di dunia ini. Anaknya yang selalu bermain dengannya sebelum tidur saat malam tidak aka nada lagi. Hatinya hancur. Tidak ada yang menandingi rasa sakit yang dialaminya  sekarang.

Perlahan dia berbalik dan menatap istrinya menangis sambil memeluk bola anaknya. Air matanya yang sejak tadi dia tahan tak terbendung lagi. Kang in memeluk istrinya dengan air mata yang bercucuran.

“Uri Jeong minnie.”

~~~

Prosesi pemakaman yang penuh dengan rasa haru, baru saja berakhir. Kang in menuntun istrinya kembali ke mobil. Tiba-tiba saja sebuah mobil membunyikan klaksonnya dengan keras dari belakang.

Yoon ji berjongkok dan berusaha menutup telinganya dengan kedua tangannya. Dia menutup matanya.

“Yoon ji-ah.” Sahut Kang in kaget melihat reaksi istrinya

Tanpa dikomando, tangis Yoon ji kembali pecah. “Jeong min-ah.”

Kangin ikut berjongkok disebelah istrinya seraya memeluknya. “Gwaencana. Itu hanya suara klakson mobil. Gwaencana Yoon ji-ah.” Mata Kang in mulai berkaca-kaca

Dia kembali menuntun istrinya masuk ke mobil dan kembali ke rumahnya. Begitu memasuki rumah mereka, Jeong min kembali terlintas di benak mereka.

Tidak ada lagi tawanya yang lucu. Tidak ada lagi yang berlarian kesana kemari mengelilingi rumah karena tidak mau makan. Tidak ada lagi yang berlari menjemput Kang in saat dia pulang kerja. Bahkan Kang in dan Yoon ji sangat merindukan suara tangis anak itu.

Dalam diam Yoon ji berjalan ke dalam rumahnya. Tapi bukan ke kamarnya melainkan ke kamar anaknya. Kamarnya yang bernuansa biru menyambut Yoon ji. Mobil-mobilan kesukaan Jeong min bersama beberapa mainannya masih tergeletak di lantai kamar, belum sempat di bereskan. Yoon ji mendekati tempat tidur anaknya dan mengambil guling yag biasa dipake Jeong min. Yoon ji memeluknya dengan erat sambil menghirup wangi anaknya yang masih melekat di guling itu.

“Jeong min-ah…” tangis Yoon ji kembali pecah

Sudah seminggu sejak kepergian Jeong min, dan Yoon ji masih tidak bisa menerima kenyataan. Waktunya dihabiskan di dalam kamar anaknya. Setiap hari hanya memeluk bantal atau mainannya dan menatap kosong ke luar jendela. Dan beberapa hari belakangan ini, keadaan Yoon ji semakin parah. Dia sering bicara dan bahkan cekikikan seolah-olah sedang bermain Jeong min.

Hati Kangin miris menatap istrinya yang terpukul sampai seperti itu. Dia tidak sanggup terus-terusan melihatnya tersiksa dan bersedih. Tapi..dia tidak tahu harus berbuat apa. Tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya. Dengan cepat dia menekan tombol ponselnya mencari nama seseorang di antara list contact ponselnya.

“Semoga aku menyimpan nomornya.” Gumamnya sambil terus menggeser layar ponselnya dengan ibu jarinya.

Got it! Tanpa menunggu lama, dia menekan tombol dial dan dial tone terdengar dari dalam ponselnya.

“Yeoboseyo.” Sahut seseorang dari seberang sana.

Kang in tersenyum, bahagia. “Songsaengnim, annyeonghaseossoyo? Ini aku, Kang in. Kim Kang In.” ujarnya berusaha membuat orang itu ingat padanya.

Lama tidak ada jawaban dan, “Ah.. aku ingat. Tapi kenapa tiba-tiba menelpon setelah lama tidak ada kabar?” Tanyanya sedikit tersinggung.

“Mianhaeyo songsaengnim. Aku hanya sangat sibuk belakangan ini. Tapi kali ini aku benar-benar membutuhkan bantuanmu.” Katanya penuh harap lalu menceritakan semua kejadian yang menimpa keluarga dan keadaan istrinya sekarang pada dosennya saat kuliah di jurusan psikologi dulu.

“Mm..” dia tampak berpikir sejenak, “Aku rasa dia hanya perlu me-refresh-kan pikirannya saja. Segala kenyataan yang terjadi begitu menyakitkan dan terlalu tiba-tiba untuknya. Aku sarankan untuk mengajak istrimu berlibur untuk menenangkan hatinya.”

Kang in tersenyum, merasa sangat tertolong. Setelah mengucapkan terima kasih, Kang in memutuskan panggilannya. Sekali lagi dia melirik ke dalam kamar dan melihat Yoon ji menitikan air mata. Lalu dia keluar rumah untuk melakukan sesuatu.

~~

Pok Ja ahjumma, pembantu Kang in, menutup telpon yang baru dia terima dengan tangan gemetar. Dia masih tidak percaya dengan berita yang baru dia dengar. Setelah mengumpulkan cukup kesadarannya, dia masuk ke kamar Jeong min. Dia melihat Yoon ji yang menatap ayunan Jeong min di luar rumah dengan penuh kesedihan.

Pok Ja ahjumma tidak tahu apa dia bisa mengatakan hal ini pada majikannya itu. Tapi harus! Ini menyangkut masalah nyawa majikannya. Dengan perlahan dia mendekati Yoon ji lalu berjongkok tepat di sebelahnya.

“Agasshi..”sahutnya perlahan sambil memegang bahu Yoon ji. Tapi Yoon ji tidak bergeming sedikit pun. Seakan-akan dia berada di tempat lain.

Pok ja ahjumma kembali menggoyangkan bahu Yoon ji. “Agasshi.. Suamimu..” kata-katanya tertahan, dia tidak sanggup mengatakannya. “Dia.. dia kecelakaan.”

Yoon ji berbalik dan menatap Pok ja ahjumma dengan mata berkaca-kaca, “M-mwo?”

Ahjumma bahkan sudah mengeluarkan air mata, “Dia kecelakaan. Baru saja.” Ulangnya lalu menutup mulutnya dengan tangannya.

Yoon ji bangkit dari duduknya. Dia tampak linglung. Dia terus saja berjalan bolak-balik di dalam kamar.

Ahjumma memegang tangan Yoon ji, menahannya. “Agasshi, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang.” Sarannya.

Yoon ji mengangguk dan mengikuti Pok ja ahjumma ke rumah sakit.

Ruangan itu terasa sangat sepi. Tidak ada suara selain suara isak tangis Yoon ji. Kang in tertidur tidak berdaya di atas ranjang. Kepalanya di perban dan sebuah selang menempel di pergelangan tangannya. Untungnya Kang in tidak mengalami luka yang terlalu parah, hanya kepalanya yang terbentur dan mengeluarkan banyak darah sehingga membuatnya tidak sadarkan diri hingga saat ini.

Yoon ji memegang tangan suaminya erat dan terus menatapnya. Salah satu tangannya menyentuh wajah Kang in, lembut.

“Nampyeon..” isaknya, “Kenapa kau juga harus seperti ini? Kalau sampai kau juga meninggalkanku, bagaimana lagi aku harus hidup?” Yoon ji mendekatkan tangan Kang in ke wajahnya. “Tuhan, kenapa tidak kau ambil juga nyawaku bersama orang-orang yang aku cintai.”

“Sshh..”

Yoon ji mengangkat kepalanya. Dia menatap Kang in yang perlahan membuka matanya. “Kang in-ah..”

Kang in tersenyum melihat istrinya. “Aku masih hidup.” Yoon ji juga tersenyum bahagia. Dia berdiri hendak memanggil dokter sebelum Kangin menarik tangannya dan membuat Yoon ji kembali duduk. “Neo..” ujarnya serius. “Jangan pernah lagi mengatakan kata-kata yang tidak berguna seperti tadi.”

Yoon ji menatap Kang in lekat-lekat. Air matanya kembali mengalir. Kang in melingkarkan tangannya ke leher Yoon ji dan mendekatkan wajah Yoon ji ke arahnya. Dengan sangat lembut Kangin mengecup air mata Yoon ji. Yoon ji menyenderkan kepalanya ke dada Kang in.

“Nampyeon..” sahut Yoon ji pelan

“Mm?”

Tangan Yoon ji memeluk Kang in. “Aku rindu pada Jeong min.”

Kang in mengecup rambut Yoon ji. “Na dou.”

“Aku rindu menggendong seorang bayi. Aku rindu suara tangisnya. Aku rindu tawanya.” Tambah Yoon ji

“Yoon ji-ah..”

“Eng?”

“…”

“Wae?” Tanya Yoon ji lagi saat tidak ada jawaban dari Kangin

“Mmm.. kau mau melahirkan Jeong min yang baru?” tanyanya

Yoon ji melihat ke arah Kang in yang sedang tersenyum genit. Yoon ji mencubit pipi suaminya. “Genit!”

Yoon ji lalu mendekatkan wajahnya ke arah Kang in dan mencium suaminya, mesra..

Yah.. hidup ini tidak akan berakhir hanya karena satu masalah yang menimpa seseorang. Hidup masih akan berlanjut walau tetap menyisakan effect dari masalah itu..

“Nothing’s over…”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s