2 Loves – Chapter 1 〚 IN LOVE 〛

Pernahkah kau merasa jatuh cinta? Cinta yang membuatmu bisa melepaskan segala milikmu hanya untuknya. Cinta yang membuatmu berharap bisa merasakan sakit dan sedih agar dia yang kau cintai tidak merasakannya? I do, well, I did.

Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku, dengan sepenuh jiwaku, dengan seluruh hari ku.

Dan aku.. aku mengkhianatinya. Mengkhianatinya dengan ‘cinta’ itu sendiri.

Jangan pernah mempertanyakan cintaku. Aku dengan tulus mencintainya.. dan dia..

Nb: Picture on cover and all is not mine credit to the right owner (found it @ pinterest). I use some picture to make it easier to imagine the story

 


〚 IN LOVE 〛

Cinta.. satu kata yang hanya dengan membacanya saja, membuat otak mu bekerja secara refleks. Membuatmu mengingat namanya, wajahnya, dan kenangan tentangnya. Dia, yah dia yang tiba-tiba muncul di kepala mu saat ini. Aku pun memiliki ‘dia’ di ingatan dan hatiku.

“Bil, hari ini lu ikut pulang bareng gue?” tanya Abel tanpa mengangkat kepalanya. Tangannya sibuk merapihkan berkas-berkas menumpuk di atas mejanya.

Aku yang sejak tadi memandangnya dengan tangan terlipat, menggeleng. “Gak, hari ini gue gak nebeng ama lu. Dira balik, ini mau ketemu pulang kantor.”

“Oke.” hanya satu kata itu dan Abel berpaling dengan tangan penuh berkas beranjak ke ruang arsip.

Aku dan Dira sudah berpacaran selama 3 tahun dan sudah delapan bulan lamanya kami hanya video call-an, chat, dan telponan hari ini aku bisa melihatnya, menyentuhnya, dan memeluknya langsung. Betapa bahagianya aku. Sejak pagi, berulang kali aku melihat ke arah jam berharap agar waktu bisa berlalu lebih cepat. Berharap jarum terpendek itu segera mengarah ke angka 5. Dan sekarang, sepuluh menit lagi!

Aku pun dengan tergesa merapihkan meja kerjaku

Aku pun dengan tergesa merapihkan meja kerjaku. Entah ada yang menyadari senyum diwajahku atau tidak, aku tidak perduli! Wajah Dira terus terbayang di benakku. Begitu jam tepat menunjukkan pukul 5, aku mengangkat tas ku dan beranjak dari kursiku.

“Sybil, kamu pulang jam 5 teng banget?” tanya salah satu teman kerjaku yang kulewati. Aku hanya tersenyum penuh makna, tidak ingin membuang waktu untuk menjelaskan kepadanya.

Ah, aku sudah tidak sabar lagi ingin bertemu dengannya. Tadi dia mengirim pesan kalau dia sudah menungguku di cafe seberang kantor. Sambil berlari kecil aku tiba di cafe itu, aku membuka pintunya dengan semangat sampai hampir menabrak seseorang yang akan keluar dengan membawa segelas kopi. “Ups! Maaf, Mas.” ucapku tanpa melihatnya. Orang itu juga melanjutkan langkahnya keluar, dan aku kembali mencari ‘dia’ di antara orang-orang yang cukup rame di cafe itu.

Kata orang saat kau jatuh cinta, terlebih saat kau merindukan seseorang, seluruh indera yang kau miliki akan aktif dengan jangkauan super. Hanya dalam hitungan detik, aku bisa menemukannya. Dia duduk membelakangi pintu hingga aku hanya melihat belakang kepalanya dan tangannya yang memegang ponsel.

Aku memeluknya dari belakang sambil sedikit membungkuk. Hhmm, aku menutup mataku. Wangi tubuhnya menyerbak masuk ke hidungku dan mengaktifkan seluruh sel yang membuatku merasa bahagia. Dan aku sadar, betapa aku merindukan wangi ini.

“Hei.” dia memiringkan kepalanya berusaha melihatku. Aku melonggarkan pelukanku dan tatapannya bertemu dengan mataku, dia tersenyum. Betapa hangatnya. Aku mengecup pipinya seraya berjalan ke kursi di depannya.

“Kamu udah dari tadi nunggu?” tatapanku tak lepas darinya.

Dia menggeleng, tetap dengan senyum manisnya. “Aku juga baru nyampe kok, Bi.” Uh, thats my nickname by him. “Dari bandara aku langsung kesini. Kan deket.” dia menyodorkan minuman green tea frappucino kesukaanku. “Makin cantik deh kamu, Bi. Perasaan kalo video call-an gak gini deh cantiknya.” godanya yang membuatku tersipu tidak karuan.”Gombal!”

Dia bercerita bagaimana perjalanannya dari Jerman kesini

Dia bercerita bagaimana perjalanannya dari Jerman kesini. Bercerita betapa tak sabarnya dia ingin bertemu denganku. Bercerita kalau selama di pesawat yang dipikirkannya hanya diriku. Dan aku sama sekali tidak bisa dan tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanku saat ini. Aku hanya bisa tersenyum, menggenggam tangannya dan terus memandangnya sepanjang dia bercerita. Betapa aku merindukan lelaki ini.

Dira, yang sudah mengisi hidupku sejak aku mulai kuliah. Berpacaran dengannya selama 3 tahun. 8 bulan lalu kami terpaksa harus berstatus LDR demi Dira yang harus melanjutkan jenjang pendidikan S2 nya di Jerman. Berhubungan jarak jauh tidak pernah mudah. Awalnya aku bahkan tidak setuju, bukan tidak percaya pada Dira. Tapi, aku tidak yakin pada diriku. Tidak yakin bisa menahan rinduku. Tidak yakin bisa berada jauh darinya.

Tapi aku tahu betapa Dira sangat ingin melanjutkan kuliahnya disana. Sejak aku mengenalnya, dia sudah sering mengatakan padaku keinginannya untuk bisa ke Jerman. Dan dengan hati berat aku melepaskannya. Berharap waktu dengan cepat segera berlalu dan dia kembali ke sisiku.

Hari ini, dia kembali ke sini karena sedang libur musim dingin. Itupun hanya untuk 3 hari, karena dia harus segera kembali ke Jerman untuk menyelesaikan tugas-tugas liburannya.

“Mau kemana setelah ini?” tanya Dira seraya mengangkat cangkir kopi hangatnya dan meneguknya.

Aku menatapnya, “Kemana yah?” tanyaku pada diriku. “Eh tapi kamu gak capek? Di pesawat berjam-jam, sampai di Indonesia langsung kesini. Yakin mau jalan-jalan?”

Tentu saja aku berharap menghabiskan waktu dengannya. Aku merindukannya. Tapi tetap saja aku khawatir. Pasti saat ini dia sangat lelah. Tidak usah ditanya.

“Gak kok!” Dia menggeleng. “I’m good. Pengen bareng kamu.”

Ah, senyumnya. Aku merindukannya.

“Kalau gitu hari ini biar aku yang supirin. Mau kemana terserah Akang. Dinda siap anter kemana aja.” kataku sambil meletakkan tangan kanan ku di dada.

Kali ini dia tertawa. Aku sangat merindukan tawa itu.

“Hmmmm..” dia tampak berpikir, “Ke warung pecel deket rumah kamu aja deh, kangen.”

“Sama pecelnya?”

“Bukan, sama Kang Cipto!”

“Hahaha.”

Hari itu kami makan malam di warung pecel Kang Cipto dekat rumahku. Makanan kesukaan Dira sejak pertama kami pacaran. Tiap ngapel, Dira pasti sempetin buat makan disitu. Kang Cipto bahkan udah kenal banget ama Dira, pelanggan setia katanya.

Malam itu kuhabiskan waktu bersamanya. Dia yang kurindu. Bercerita kesana kemari. Dira bercerita kisahnya di Jerman, yang tentu saja sudah kutahu karena sudah pernah diceritakan olehnya lewat telepon. Dan aku bercerita kehidupanku memulai kerja di kantor baru ku ini. Menceritakan tentang Abel, teman kerjaku yang sangat baik karena tiap hari mengizinkan aku ikut di mobilnya saat pulang kantor. Bercerita tentang Ayah, Ibu, dan kakakku. Bahkan tentang cicak yang biasa hinggap di atap kamarku.

Tidak sadar kami berada di warung itu sampai pukul setengah dua belas malam. Kang Cipto sampai harus mengusir kami karena dia juga ingin pulang. Dira mengantarku pulang ke rumah. Aku tidur malam itu dengan perasaan yang tidak bisa lagi kugambarkan. Aku tidak ingin memikirkan hari dimana dia harus kembali ke Jerman. Kali ini aku berharap waktu berjalan dengan lambat dan hari itu tidak akan datang.

Selamat malam, Dira!

 

Advertisements

3 thoughts on “2 Loves – Chapter 1 〚 IN LOVE 〛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s