2 Loves – Chapter 3〚 HIM 〛

Another day without Dira. Berjalan seperti hari-hari biasanya. Aku bangun di pagi hari, bersiap ke kantor, menghabiskan waktu tanpa terasa dengan kesibukan kantor, dan pulang. Tentu saja ditambah dengan bumbu rindu.

Tak ada hari yang kulewatkan tanpa berkabar dengannya. Walaupun hanya sekedar pesan “Jangan lupa makan sayang. Miss You!” Setiap malam ku usahakan menghubunginya melalui skype. Aplikasi paling wajib untuk mereka yang berstatus LDR.

Tapi hari ini berbeda! Hidup tak berjalan selancar biasanya


Tapi hari ini berbeda! Hidup tak berjalan selancar biasanya. Segalanya uring-uringan. Waktu seperti memaksa ingin segera pergi. Dan aku seperti ditindas oleh sesuatu yang disebut ‘deadline’.

Shit! Costumer kali ini emang booking nya asli dadakan. Cuman ngasih kita waktu sehari buat siapin acara propose buat calon istrinya.

Eh, aku belum cerita yah? Aku bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang event organizer. Kerjaannya yah gini, by project. Ke iket sama namanya target dan harus success saat D-Day. Dan tentunya teamwork yang asli gak mudah dan harus solid.

Untungnya event kali ini bisa kami handle dengan baik. Kalo kata Bu Ningsih sih, “Great job, team!” Dan insentif tentu aja nyusul dengan lancar, Alhamdulillah.

Pagi itu, setelah acara kejer-kejeran deadline kemarin, Bu Ningsih manggil aku ke ruangannya. Tumben. Padahal biasanya kalau dia ada ngasih kerjaan pasti lewat telepon atau lebih sering datengin aku ke mejaku.

Tok tok! Aku mengetuk pintu ruangannya. Sayup ku dengar beliau berteriak “Masuk!”. Ku dorong pintu itu perlahan. Bu Ningsih gak sendirian. Mungkin masih ada tamunya. Dengan hati-hati aku masuk. “Manggil saya bu?”

Bu Ningsih mengangguk “Iya, duduk sini Bil.” Suruhnya sambil menunjuk kursi di samping tamunya itu. Aku menurut.

“Aku langsung aja yah!” Bu Ningsih menyilangkan kedua tangannya. “Kita dapat project yang lumayan gede dan penting. Tapi team 3 tiba-tiba kena musibah. Salah satu anggotanya kecelakaan dan harus istirahat di rumah sakit.”

Aku mendengarkannya dengan seksama. Bu Ningsih kalau ngomong emang asyik! Gak berat kayak atasan-atasan lain.

“Jadi ketua teamnya minta tolong ke aku, minta bantuan helper buat project dia.” Bu Ningsih sekilas melihat ke arah tamu di sebelahku. “Nah, aku nunjuk kamu buat bantu mereka. Bisa gak?”

Aku melirik ke samping untuk pertama kalinya.

Seorang pria, dengan penampilan yang sangat rapih. Masih muda, kelihatannya gak jauh usianya sama aku. Dia juga melihat ke arahku, tapi dia hanya diam dan kembali melihat ke depan. Tanpa senyum!

“Deadline nya kapan Bu?” Aku kembali melihat ke Bu Ningsih.

“Harus kelar minggu ini.” Jawab pria itu. Nice voice! Suara berat yang selalu bisa bikin telinga wanita-wanita dibuat ‘Auh!’ saat mendengarnya.

“Hhmm..” aku berpikir “Bisa deh Bu! Kan proyek yang kemarin juga udah kelar.”

Bu Ningsih tersenyum. “Ya udah kenalin. Ini ketua team 3, Radit.”

Aku tersenyum seraya mengulurkan tanganku. “Sybil.” Dan dia membalas uluran tanganku.

“Nanti kamu komunikasi langsung ke dia aja. Kalian bisa keluar sekarang.” Ucap Bu Ningsih.

Aku dan lelaki yang bernama Radit itu keluar bersamaan.

“Kamu ikut ke ruangan ku yah.” sahutnya sambil terus berjalan tanpa menunggu jawabanku.

Apa-apaan dia? Celotehku dalam hati. Tapi tetap ku ikuti sampai ke ruangannya, toh sejak beberapa menit yang lalu dia menjadi ketua team ku.

Dia mengangkat beberapa berkas dan menyerahkan kepadaku “Ini pekerjaan yang harus kau handle. Filenya akan ku kirim ke email mu. Pelajari saja dulu, besok kau presentasikan rangkumannya dan ide mu kedepannya untuk proyek ini.”

Aku yang masih berdiri dengan tumpukan berkas di tanganku, hanya menganga menatapnya.

Dia kembali menatapku. “Ada yang kurang jelas?” tanya nya.

“Be.. besok?” Tanyaku tidak percaya.

Dia mengangguk dan kembali menyahut, “Kau bisa kembali ke mejamu.”

Dengan pasrah aku melangkah keluar masih dengan tumpukan berkas bersamaku

Dengan pasrah aku melangkah keluar masih dengan tumpukan berkas bersamaku. Berkas-berkas itu ku lepaskan dari tanganku dengan keras ke atas mejaku.

“Kau kenapa?” tanya Abel yang heran melihatku

“Aku baru saja bertemu manusia tak berperasaan.” aku mulai mengomel. “Lihat saja berkas-berkas ini, masa iya aku disuruh merangkum semuanya dan di tambah ide baru dan di presentasikan BESOK!” jeritku kesal.

Abel tersenyum geli, “Siapa?”

“Tuh!” aku mengerlingkan ujung mataku ke ruangan team 3. “Bapak Radit yang terhormat.”

Seharian itu aku bergelut dengan semua berkas-berkas dan beberapa file yang di kirim olehku. Berusaha dengan sekuat tenaga menggali ide yang mungkin brilliant. Bahkan aku baru bisa kembali ke rumah jam 2 subuh esoknya. Hanya tidur sejam di rumah, dan aku kembali bersiap ke kantor.

Karena kantorku bekerja dari proyek dan selalu dikejar deadline, menginap di kantor sudah menjadi hal yang lumrah untuk kami. Bahkan beberapa karyawan dengan sengaja membawa bantal dan selimut dari rumah demi mendapat tidur yang berkualitas walaupun hanya sebentar.

Malam itu aku bahkan tidak sempat bertemu dengan Dira saking lelahnya, maksudku bertemu secara online, hehehe.

Pagi itu dengan disaksikan seluruh anggota team 3 dan tentu saja oleh bapak Radit yang terhormat, aku mempresentasikan hasil rangkuman dan mengutarakan ide ku mengenai proyek kali ini.

Dan thanks God, presentasiku berjalan mulus dan Radit juga menerima ideku dengan baik!

Dan thanks God, presentasiku berjalan mulus dan Radit juga menerima ideku dengan baik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s